Arsip tag SEJARAH

ASEAN dan Sejarahnya

4 Des

1.

1. ASEAN dan Sejarahnya

 

ASEAN adalah kepanjangan dari Association of South East Asia Nations. ASEAN disebut juga sebagai Perbara yang merupakan singkatan dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara. Gedung sekretarian ASEAN berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Indonesia. ASEAN didirikan tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok. ASEAN diprakarsai oleh 5 menteri luar negeri dari wilayah Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura :

1. Perwakilan Indonesia : Adam Malik
2. Perwakilan Malaysia : Tun Abdul Razak
3. Perwakilan Thailand : Thanat Koman
4. Perwakilan Filipina : Narcisco Ramos
5. Perwakilan Singapura : S. Rajaratnam

Sedangkan terdapat negara-negara lain yang bergabung kemudian ke dalam ASEAN sehingga total menjadi 11 negara, yaitu :

1. Brunei Darussalam tangal 7 Januari 1984
2. Vietnam tangal 28 Juli 1995
3. Myanmar tangal 23 Juli 1997
4. Laos tangal 23 Juli 1997
5. Kamboja tangal 16 Desember 1998
6. Timor Leste

2. Daftar Nama Pahlawan Revolusi Korban Kekejaman Peristiwa Gerakan 30 September PKI 1965 G/30S/PKI Gestapu – Sejarah Indonesia

Nama-nama pahlawan revolusi :
1. Ahmad Yani, Jend. Anumerta
2. Donald Ifak Panjaitan, Mayjen. Anumerta
3. M.T. Haryono, Letjen. Anumerta
4. Piere Tendean, Kapten CZI Anumerta
5. Siswono Parman, Letjen. Anumerta
6. Suprapto, Letjen. Anumerta
7. Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen. Anumerta

Korban tewas lain peristiwa G 30S PKI :
1. Katamso Dharmokusumo, Brigjen. Anumerta
2. Sugiyono Mangunwiyoto, Kolonel. Anumerta
3. Karel Sasuit Tubun, AIP II
4. Ade Irma Suryani Nasution putri Jend. A.H. Nasution

3. Perjanjian / Perundingan Linggar Jati – Diplomasi Sejarah Indonesia Nasional Antara Republik Indonesia dengan Belanda

 

Perjanjian linggar jati adalah suatu perjanjian yang dilakukan antara Sutan Sahmi dari pihak Indonesia dengan Dr.H.J. Van Mook dari pihak pemerintah Belanda. Kesepakatan linggar jati yang berlangsung selama 4 (empat) hari disepakati di sebuah desa linggar jati di daerah Kabupaten Kuningan.

Hasil perundingan tertuang dalam 17 pasal. 4 (Empat) isi pokok pada perundingan linggar jati adalah :

1. Belanda mengakui secara defacto wilayah RI / Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura.

2. Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 januari 1946.

3. Pihak Belanda dan Indonesia Sepakat membentuk negara Republik Indonesia Serikat atau RIS.

4. Dalam bentuk RIS indonesia harus tergabung dalam Commonwealth / Uni Indonesia Belanda dengan mahkota negeri Belanda debagai kepala uni.

Dengan adanya kesepakatan perjanjian / perundingan linggar jati, Negara Indonesia mengalami kekalahan selangkah. Selanjutnya setelah terbentuk negara RIS pihak Belanda bertindak sewenang-wenang yang merugikan RI.

4. 16 Negara Bagian Bentukan RIS Republik Indonesia Serikat KMB – Berdasarkan Keputusan Konferensi Meja Bundar – Sejarah Nasional

 

Berdasarkan keputusan pada perundingan KMB atau konfrensi meja bundar antara Moh. Hatta, Moh. Roem dengan Van Maarseven di Den Haag Belanda memutuskan bahwa bentuk negara Indonesia adalah negara RIS / Republik Indonesia Serikat. Negara republik indonesia serikat memiliki total 16 negara bagian dan 3 daerah kekuasaan ditetapkan tanggal 27 desember 1949. Tujuan dibentuknya negara RIS tidak lain adalah untuk memecah belah rakyat Indonesia dan melemahkan pertahanan Indonesia.

A. Daerah Kekuasaan RIS 1 mencakup :
- Negara Pasundan
- Republik Indonesia
- Negara Jawa Timur
- Negara Indonesia Timur
- Negara Madura
- Negara Sumatera Selatan
- Negara Sumatera Timur

B. Daerah Kekuasaan RIS 2 meliputi :
- Negara Riau
- Negara Jawa Tengah
- Negara Dayak Besar
- Negara Bangka
- Negara Belitung
- Negara Kalimantan Timur
- Negara Kalimantan Barat
- Negara Kalimantan Tenggara
- Negara Banjar
- Negara Dayak Besar

C. Daerah Kekuasaan RIS 3 adalah :
- Daerah Indonesia lainnya yang bukan termasuk negara bagian

 

5. Konferensi Asia Afrika / KAA di Bandung 18 April 1955 – Negara Peserta & Hasil KAA Dasasila Bandung / Bandung Declaration

 

Konfrensi Asia Afrika yang pertama (KAA I) diadakan di kota Bandung pada tanggal 19 april 1955 dan dihadiri oleh 29 negara kawasan Asia dan Afrika. Konferensi ini menghasilkan 10 butir hasil kesepakatan bersama yang bernama Dasasila Bandung atau Bandung Declaration.

Dengan adanya Dasa Sila Bandung mampu menghasilkan resolusi dalam persidangan PBB ke 15 tahun 1960 yaitu resolusi Deklarasi Pembenaran Kemerdekaan kepada negara-negara dan bangsa yang terjajah yang lebih dikenal sebagai Deklarasi Dekolonisasi.

Negara-Negara Peserta yang mengikuti Konferensi Asia Africa KAA 1 di Bandung :
1. Indonesia
2. Afghanistan
3. Kamboja
4. RRC / Cina
5. Mesir
6. Ethiopia
7. India
8. Filipina
9. Birma
10. Pakistan
11. Srilanka
12. Vietnam Utara
13. Vietnam Selatan
14. Saudi Arabia
15. Yaman
16. Syiria
17. Thailand
18. Turki
19. Iran
20. Irak
21. Sudan
22. Laos
23. Libanon
24. Liberia
25. Thailand
26. Ghana
27. Nepal
28. Yordania
29. Jepang

Sepuluh (10) inti sari / isi yang terkandung dalam Bandung Declaration / Dasasila Bandung :

1. Menghormati hak-hak dasar manusia seperti yang tercantum pada Piagam PBB.
2. Menghormati kedaulatan dan integritas semua bangsa.
3. Menghormati dan menghargai perbedaan ras serta mengakui persamaan semua ras dan bangsa di dunia.
4. Tidak ikut campur dan intervensi persoalan negara lain.
5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri baik sendiri maupun kolektif sesuai dengan piagam pbb.
6. Tidak menggunakan peraturan dari pertahanan kolektif dalam bertindak untuk kepentingan suatu negara besar.
7. Tidak mengancam dan melakukan tindak kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
8. Mengatasi dan menyelesaikan segala bentuk perselisihan internasional secara jalan damai dengan persetujuan PBB.
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
10. Menghormati hukum dan juga kewajiban internasional.

6. Tritura – Tiga Tuntutan Rakyat / Tri Tuntutan Rakyat Indonesia – Sejarah Setelah Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia

 

Tritura adalah kependekan atau singkatan dari tri tunturan rakyat atau tiga tuntutan rakyat yang dicetuskan dan diserukan oleh para mahasiswa KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan didukung oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia / ABRI pada tahun 1965 yang ditujukan kepada Pemerintah.

Sebelumnya tunturan pembubaran PKI serta perombakan kabinet pada pemerintah telah digaungi oleh KAP-Gestapu yang merupakan singkatan dari (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September).

Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat Berisi / Memiliki Isi :
1. Bubarkan PKI
2. Perombakan Kabinet
3. Turunkan Harga

7. Perundingan Perjanjian Garis Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Tetangga Malaysia, Thailand, Australia dan India

 

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melakukan penyelesaian masalah garis batas landas kontinen dengan negara-negara sahabat dengan semangat good neighboorhood policy atau semangat kebijakan negara bertetangga yang baik di antaranya dengan negara sahabat Malaysia, Thailand, Australia dan India.

1. Perjanjian RI dan Malaysia
- Penetapan garis batas landas kontinen kedua negara di Selat Malaka dan laut Cina Selatan
- Ditandatangai tanggal 27 oktober 1969
- Berlaku mulai 7 November 1969

2. Perjanjian Republik Indonesia dengan Thailand
- Penetapan garis batas landas kontinen kedua negara di Selat Malaka dan laut andaman
- Ditandatangai tanggal 17 Desember 1971
- Berlaku mulai 7 April 1972

3. Perjanjian Republik Indonesia dengan Malaysia dan Thailand
- Penetapan garis batas landas kontinen bagian utara
- Ditandatangai tanggal 21 Desember 1971
- Berlaku mulai 16 Juli 1973

4. Perjanjian RI dengan Australia
- Penetapan atas batas dasar laut di Laut Arafuru, di depan pantai selatan Pulau Papua / Irian serta di depan Pantau Utara Irian / Papua
- Ditandatangai tanggal 18 Mei 1971
- Berlaku mulai 19 November 1973

5. Perjanjian RI dengan Australia (Tambahan Perjanjian Sebelumnya)
- Penetapan atas batas-batas dasar laut di daerah wilayah Laut Timor dan Laut Arafuru
- Ditandatangai tanggal 18 Mei 1971
- Berlaku mulai 9 Oktober 1972

6. Perjanjian RI dengan India
- Penetapan garis batas landas kontinen kedua negara di wilayah Sumatera / Sumatra dengan Kepulauan Nikobar / Nicobar
- Ditandatangai tanggal 8 Agustus 1974
- Berlaku mulai 8 Agustus 1974

8. Ajaran Lebensraum, Autarki dan Pan-Region Oleh Karl Haushofer Orang Jerman – Pengertian dan Arti Definisi – Ilmu Sejarah Dunia

 

Ajaran Karl Haushofer (Jerman 1869-1946) adalah ajaran yang condong mengajarkan peperangan antara sesama umat manusia di mana ia beranggapan bahwa perang adalah bapak dari segala hal untuk kejayaan suatu bangsa dan negara.

Berikut ini adalah arti definisi / pengertian dari inti ajaran karl haushofer menurut kaum geopolitik :

1. Lebensraum
Lebensraum adalah hak suatu bangsa atas ruang hidup untuk dapat menjamin kesejahteraan dan keamanannya. Berdasarkan kaum geopolitik Jerman negara besar berhak berkembang dan memakan negara yang kecil yang dari dulu telah ditakdirkan untuk mati.

2. Autarki
Autarki adalah cita-cita untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Kaum geopolitik jerman menganggap bahwa negara yang besar dapat mengambil dan mendapatkan kekeyaan sumber alam dari negara yang kecil jika membutuhkan sumber alam.

3. Pan-Region
Pan-Region adalah pembagian wilayah-wilayah dunia menjadi perserikatan wilayah. Dalam setiap pan region memiliki adat dan budaya yang sama. Dunia internasional dibagi manjadi empat (4) pan region yaitu pan-amerika, pan-asia, pan-region Jerman dan Pan-region Rusia-India.

9. Jenis/Macam Sekolah Pada Zaman Kolonialisme Belanda Di Indonesia – Sejarah Jaman Dulu / Jadul

 

Pada saat penjajahan belanda dulu di Indonesia sempat didirikan berbagai jenis sekolah-sekolah belanda yang dibagi-bagi menjadi beraneka ragam jenis, yaitu :

1. ELS (Eurospeesch Lagere School) atau disebut juga HIS (Hollandsch Inlandsch School) sekolah dasar dengan lama studi sekitar 7 tahun. Sekolah ini menggonakan sistem dan metode seperti sekolah di negeri belanda.

2. HBS (Hogere Burger School) yang merupakan sekolah lanjutan tinggi pertama untuk warga negara pribumi dengan lama belajar 5 tahun. AMS (Algemeen Metddelbare School) mirip HBS, namun setingkat SLTA/SMA.

3. Sekolah Bumi Putera (Inlandsch School) dengan bahasa pengantar belajarnya adalah bahasa daerah dan lama study selama 5 tahun.

4. Sekolah Desa (Volksch School) dengan bahasa pengantar belajar bahasa daerah sekitar dan lama belajar adalah 3 tahun.

5. Sekolah lanjutan untuk sekolah desa (Vervolksch School) belajar dengan bahasa pengantarnya bahasa daerah dan masa belajar selama 2 tahun.

6. Sekolah Peralihan (Schakel School) yaitu sekolah lanjutan untuk sekolah desa dengan lama belajar 5 tahun dan berbahasa belanda dalam kegiatan belajar mengajar.

7. MULO Sekolah lanjutan tingkat pertama singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs dengan tingkatan yang sama dengan smp / sltp pada saat jika dibandingkan dengan masa kini.

8. Stovia (School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen) yang sering disebut juga sebagai Sekolah Dokter Jawa dengan masa belajar selama 7 tahun sebagai lanjutan MULO.

10. Organisasi Pergerakan Nasional Budi Utomo Menghadapi Kekuasaan Kolonial Hindia Belanda Tahun 1908

 

Budi Utomo adalah organisasi pergerakan modern yang pertama di Indonesia dengan memiliki struktur organisasi pengurus tetap, anggota, tujuan dan juga rencana kerja dengan aturan-aturan tertentu yang telah ditetapkan. Budi utomo pada saat ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu STM yang memiliki siswa yang suka tawuran, bikin rusuh, bandel, dan sebagainya. Biasanya anak sekolah tersebut menyebut dengan singkatan Budut / Boedoet (Boedi Oetomo). Pada artikel kali ini yang kita sorot adalah Budi Utomo yang organisasi jaman dulu, bukan yang STM.

Budi Utomo didirikan oleh mahasiswa STOVIA dengan pelopor pendiri Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang bertujuan untuk memajukan Bangsa Indonesia, meningkatkan martabat bangsa dan membangkitkan Kesadaran Nasional. Tanggal 20 Mei 1908 biasa diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional Indonesia.

Sebagai suatu organisasi yang baik, Budi Utomo memberikan usulan kepada pemerintah Hidia Belanda sebagai mana berikut ini :
1. Meninggikan tingkat pengajaran di sekolah guru baik guru bumi putera maupun sekolah priyayi.
2. Memberi beasiswa bagi orang-orang bumi putera.
3. Menyediakan lebih banyak tempat pada sekolah pertanian.
4. Izin pendirian sekolah desa untuk Budi Utomo.
5. Mengadakan sekolah VAK / kejuruan untuk para bumi putera dan para perempuan.
6. Memelihara tingkat pelajaran di sekolah-sekolah dokter jawa.
7. Mendirikan TK / Taman kanak-kanak untuk bumi putera.
8. Memberikan kesempatan bumi putra untuk mengenyam bangku pendidikan di sekolah rendah eropa atau sekolah Tionghoa – Belanda.

Kongres pertama budi utomo diadakan di Yogyakarta pada oktober 1908 untuk mengkonsolidasikan diri dengan membuat keputusan sebagai berikut :
1. Tidak mengadakan kegiatan politik.
2. Bidang utama adalah pendidikan dan kebudayaan.
3. Terbatas wilayah jawa dan madura.
4. Mengangkat R.T. Tirtokusumo yang menjabat sebagai Bupati Karanganyar sebagai ketua.

Pemerintah Hindia-Belanda mengesahkan Budi Utomo sebaga badan hukum yang sah karena dinilai tidak membahayakan, namun tujuan organisasi Budi Utomo tidak maksimal karena banyak hal, yakni :
1. Mengalami kesulitan dinansial
2. Kelurga R.T. Tirtokusumo lebih memperhatikan kepentingan pemerintah kolonial daripada rakyat.
3. Lebih memajukan pendidikan kaum priyayi dibanding rakyat jelata.
4. Keluarga anggota-anggota dari golongan mahasiswa dan pelajar.
5. Bupati-bupati lebih suka mendirikan organisasi masing-masing.
6. Bahasa belanda lebih menjadi prioritas dibandingkan dengan Bahasa Indonesia.
7. pengaruh golongan priyayi yang mementingkan jabatan lebih kuat dibandingkan yang nasionalis.

Keterangan :

Bumi Putera adalah bukan bank atau lembaga keuangan bisnis lainnya, tetapi yang dimaksud dengan bumi putera adalah warga pribumi yang pada zaman dahulu dianggap sebagai warga tingkat rendah dibanding warga ras eropa, cina, arab, dan lain-lainnya.

11. Sejarah Detik-Detik Proklamasi Dan Makna Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

 

Pelaksanaan acara proklamasi hari kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia dilaksanakan pada tanggal 17 Augustus 1945 di Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta pukul 10.00 wib. Setelah bendera sang merah putih berkibar, para hadirin dengan spontan dan serentak menyanyikan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman.

Jadwal Acara Proklamasi 17-08-1945 :
1. Pembacaan proklamasi yang kemudian dilanjutkan dengan pidato singkat Ir. Soekarno.
2. Pengibaran Sang Bendera Merah Putih.
3. Kata Sambutan dari Suwiryo.
4. Sambutan dari Dr. Muwardi selaku panitia keamanan.

Makna Proklamsi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia :
1. Telah lahir sebuah negara dan bangsa baru yang merdeka dan berdaulat.
2. Adanya revolusi untuk memindahkan kekuasaan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
3. Bebas dari segala bentuk janji muluk kemerdekaan dari pemerintah Jepang.

12. Perlawanan Rakyat Saparua Tahun 1817 Kapitan Pattimura Maluku – Perjuangan Sebelum Kemerdekaan

 

Daftar Nama Pahlawan :
- Thomas Matulesi
- Kapiten Patimura
- Kapitan Paulus Tiahahu
- Kristina Martha Tiahahu

Penduduk Ambon-Lease memiliki unsur kehidupan yang dibawa dan dipadukan dengan budaya yang telah ada oleh VOC yaitu sistem perkebunan cengkeh, sistem pemerintahan desa dan sistem pendidikan desa. Sistem pemerintahan terjadi karena timbulnya daerah pemukiman baru.

Sistem perkebunan cengkeh mengharuskan menjual cengkeh rakyat ke VOC dengan harga yang ditetapkan sepihak. Hak pengolahan tanah dibagi menjadi tanah pekebunan cengkeh dan tanah pusaka warisan keluarga untuk ditanami bahan pangan untuk keluarga yang menggarapnya.

Ketiga jenis sistem tersebut menyebabkan keresahan masyarakat Maluku karena :
1. Banyak terjadi korupsi.
2. Adanya kewajiban membuat ikan asin dan garam untuk kapal perang belanda.
3. Pemuda negeri banyak yang dipaksa menjadi serdadu di Jawa.
4. Diberlakukan sirkulasi uang kertas di Ambon yang didapat dari hasil penjualan cengkeh namun untuk membeli barang di toko pemerintah harus memakai uang logam.
5. Hukuman denda dibayar dari hasil penjualan cengkeh serta ditambah biaya untuk kepentingan residen.
6. Penyerahan wajib leverantie bahan bangunan.
7. Adanya pelayaran hongi yang menebar penderitaan.

Tanggal 14 mei 1817 rakyat maluku bersumpah untuk melawan pemerintah dimulai dengan menyerang dan membongkar perahu milik belanda orombaai pos yang hendak membawa kayu bahan bangunan. Kemudian merebut benteng Duurstede oleh pasukan yang dipimpin Kapiten Pattimura dan Thomas Matulesi. Pattimura kemudian menyerang pasukan yang dipimpin beetjes untuk merebut benteng Zeelandia, namun sebelum menyerang zeelandia, Residen Uitenbroek di Haruku melkukan hal berikut :
1. Memberi hadiah kepada Kepala Desa.
2. Membentuk komisi pendakatan Kepala-Kepala Desa di Haruku.
3. Mendatangkan pasukan bala bantuan Inggris dengan Kapal Zwaluw.

Karena adanya bantuan Inggris, Kapten Pattimura terdesak masuk hutan dan benteng-bentengnya direbut kembali pemerintah.

Rakyat nusa laut menyerah tanggal 10 November 1817 setelah pimpinannya Kapiten Paulus Tiahahu serta putrinya Kristina Martha Tiahahu. Tanggal 12 November 1817 Kapitan Pattimura ditangkap dan bersama tiga penglimanya dijatuhi hukuman mati di Niuew Victoria di Ambon.

—–

Tambahan :
A. Arti definisi / pengertian Pelayaran Hongi
Pelayaran hongi adalah pelayaran yang diadakan oleh VOC tiap setahun sekali dengan kora-kora untuk patroli ke pulau manipa, seram dan buru untuk mengawasi daerah dilarang menghasilkan cengkeh yang menyebabkan banyak pedayung lokal yang mati kelaparan dan dibunuh VOC.

13. Tokoh-Tokoh Proklamasi 17 Agustus 1945 Dan Perannya Pada Persiapan Pelaksanaan Proklamasi

 

Berikut ini adalah daftar orang yang memiliki peran serta dalam mempersiapkan pelaksanaan proklamasi pada 17 agustus 1945 jam 10.00 wib di jl. pegangsaan timur no.56 jakarta. Berikut ini adalah nama tokoh tersebut beserta aktivitasnya pada waktu itu yaitu :

1. Soekarno dan M. Hatta
Kedua tokoh pahlawan Negara Indonesia itu merumuskan naskah proklamasi bersama dengan Soebardjo. Sukarno dan Bung Karno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan M.Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pertama.

2. Sayuti Melik
Beliau adalah tokoh yang mengetik naskah teks proklamasi setelah disempurnakan dari naskah tulisan tangan asli.

3. Sukarni
Sukarni adalah tokoh pemuda yang sebelumnya pernah memimpin asrama angkatan baru yang berlokasi di menteng raya 31.

4. B.M. Diah
Beliau merupakan tokoh yang berperan sebagai wartawan dalam menyiarkan kabar berita Indonesia Merdeka ke seluruh penjuru tanah air.

5. Latif Hendraningrat, S. Suhud dan Tri Murti
Mereka berperan penting dalam pengibaran bendera merah putih pada acara proklamasi 17-08-1945. Tri Murti sebagai petugas pengibar pemegang baki bendera merah putih.

6. Frans S. Mendur
Beliau seorang wartawan yang menjadi perekam sejarah melalui gambar-gambar hasil bidikannya pada peristiwa-peristiwa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia bersama kawan-kawannya di Ipphos (Indonesia Press Photo Service).

7. Syahrudin
Adalah seorang telegraphis pada kantor berita Jepang yang mengabarkan berita proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia ke seluruh dunia secara sembunyi-sembunyi ketika personil jepang istirahat pada tanggal 17 agustus 1945 jam 4 sore.

8. Soewirjo
Beliau adalah walikota Jakarta Raya yang mengusahakan kegiatan upacara proklamasi dan pembacaan proklamasi berjalan aman dan lancar.

14. Peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 Kongres Pemuda II – Satu Tanah Air, Bangsa dan Bahasa

 

Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua :

PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).

KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).

KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).

Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.

Apabila kita ingin mengetahui lebih lanjut mengenai banyak hal tentang Sumpah Pemuda kita bisa menunjungi Museum Sumpah Pemuda yang berada di Gedung Sekretariat PPI Jl. Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi utama seperti biola asli milik Wage Rudolf Supratman yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta foto-foto bersejarah peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda-pemudi Indonesia.

ASEAN adalah kepanjangan dari Association of South East Asia Nations. ASEAN disebut juga sebagai Perbara yang merupakan singkatan dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara. Gedung sekretarian ASEAN berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Indonesia. ASEAN didirikan tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok. ASEAN diprakarsai oleh 5 menteri luar negeri dari wilayah Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura :

1. Perwakilan Indonesia : Adam Malik
2. Perwakilan Malaysia : Tun Abdul Razak
3. Perwakilan Thailand : Thanat Koman
4. Perwakilan Filipina : Narcisco Ramos
5. Perwakilan Singapura : S. Rajaratnam

Sedangkan terdapat negara-negara lain yang bergabung kemudian ke dalam ASEAN sehingga total menjadi 11 negara, yaitu :

1. Brunei Darussalam tangal 7 Januari 1984
2. Vietnam tangal 28 Juli 1995
3. Myanmar tangal 23 Juli 1997
4. Laos tangal 23 Juli 1997
5. Kamboja tangal 16 Desember 1998
6. Timor Leste

2. Daftar Nama Pahlawan Revolusi Korban Kekejaman Peristiwa Gerakan 30 September PKI 1965 G/30S/PKI Gestapu – Sejarah Indonesia

Nama-nama pahlawan revolusi :
1. Ahmad Yani, Jend. Anumerta
2. Donald Ifak Panjaitan, Mayjen. Anumerta
3. M.T. Haryono, Letjen. Anumerta
4. Piere Tendean, Kapten CZI Anumerta
5. Siswono Parman, Letjen. Anumerta
6. Suprapto, Letjen. Anumerta
7. Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen. Anumerta

Korban tewas lain peristiwa G 30S PKI :
1. Katamso Dharmokusumo, Brigjen. Anumerta
2. Sugiyono Mangunwiyoto, Kolonel. Anumerta
3. Karel Sasuit Tubun, AIP II
4. Ade Irma Suryani Nasution putri Jend. A.H. Nasution

3. Perjanjian / Perundingan Linggar Jati – Diplomasi Sejarah Indonesia Nasional Antara Republik Indonesia dengan Belanda

Perjanjian linggar jati adalah suatu perjanjian yang dilakukan antara Sutan Sahmi dari pihak Indonesia dengan Dr.H.J. Van Mook dari pihak pemerintah Belanda. Kesepakatan linggar jati yang berlangsung selama 4 (empat) hari disepakati di sebuah desa linggar jati di daerah Kabupaten Kuningan.

Hasil perundingan tertuang dalam 17 pasal. 4 (Empat) isi pokok pada perundingan linggar jati adalah :

1. Belanda mengakui secara defacto wilayah RI / Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura.

2. Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 januari 1946.

3. Pihak Belanda dan Indonesia Sepakat membentuk negara Republik Indonesia Serikat atau RIS.

4. Dalam bentuk RIS indonesia harus tergabung dalam Commonwealth / Uni Indonesia Belanda dengan mahkota negeri Belanda debagai kepala uni.

Dengan adanya kesepakatan perjanjian / perundingan linggar jati, Negara Indonesia mengalami kekalahan selangkah. Selanjutnya setelah terbentuk negara RIS pihak Belanda bertindak sewenang-wenang yang merugikan RI.

4. 16 Negara Bagian Bentukan RIS Republik Indonesia Serikat KMB – Berdasarkan Keputusan Konferensi Meja Bundar – Sejarah Nasional

Berdasarkan keputusan pada perundingan KMB atau konfrensi meja bundar antara Moh. Hatta, Moh. Roem dengan Van Maarseven di Den Haag Belanda memutuskan bahwa bentuk negara Indonesia adalah negara RIS / Republik Indonesia Serikat. Negara republik indonesia serikat memiliki total 16 negara bagian dan 3 daerah kekuasaan ditetapkan tanggal 27 desember 1949. Tujuan dibentuknya negara RIS tidak lain adalah untuk memecah belah rakyat Indonesia dan melemahkan pertahanan Indonesia.

A. Daerah Kekuasaan RIS 1 mencakup :
- Negara Pasundan
- Republik Indonesia
- Negara Jawa Timur
- Negara Indonesia Timur
- Negara Madura
- Negara Sumatera Selatan
- Negara Sumatera Timur

B. Daerah Kekuasaan RIS 2 meliputi :
- Negara Riau
- Negara Jawa Tengah
- Negara Dayak Besar
- Negara Bangka
- Negara Belitung
- Negara Kalimantan Timur
- Negara Kalimantan Barat
- Negara Kalimantan Tenggara
- Negara Banjar
- Negara Dayak Besar

C. Daerah Kekuasaan RIS 3 adalah :
- Daerah Indonesia lainnya yang bukan termasuk negara bagian

5. Konferensi Asia Afrika / KAA di Bandung 18 April 1955 – Negara Peserta & Hasil KAA Dasasila Bandung / Bandung Declaration

Konfrensi Asia Afrika yang pertama (KAA I) diadakan di kota Bandung pada tanggal 19 april 1955 dan dihadiri oleh 29 negara kawasan Asia dan Afrika. Konferensi ini menghasilkan 10 butir hasil kesepakatan bersama yang bernama Dasasila Bandung atau Bandung Declaration.

Dengan adanya Dasa Sila Bandung mampu menghasilkan resolusi dalam persidangan PBB ke 15 tahun 1960 yaitu resolusi Deklarasi Pembenaran Kemerdekaan kepada negara-negara dan bangsa yang terjajah yang lebih dikenal sebagai Deklarasi Dekolonisasi.

Negara-Negara Peserta yang mengikuti Konferensi Asia Africa KAA 1 di Bandung :
1. Indonesia
2. Afghanistan
3. Kamboja
4. RRC / Cina
5. Mesir
6. Ethiopia
7. India
8. Filipina
9. Birma
10. Pakistan
11. Srilanka
12. Vietnam Utara
13. Vietnam Selatan
14. Saudi Arabia
15. Yaman
16. Syiria
17. Thailand
18. Turki
19. Iran
20. Irak
21. Sudan
22. Laos
23. Libanon
24. Liberia
25. Thailand
26. Ghana
27. Nepal
28. Yordania
29. Jepang

Sepuluh (10) inti sari / isi yang terkandung dalam Bandung Declaration / Dasasila Bandung :

1. Menghormati hak-hak dasar manusia seperti yang tercantum pada Piagam PBB.
2. Menghormati kedaulatan dan integritas semua bangsa.
3. Menghormati dan menghargai perbedaan ras serta mengakui persamaan semua ras dan bangsa di dunia.
4. Tidak ikut campur dan intervensi persoalan negara lain.
5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri baik sendiri maupun kolektif sesuai dengan piagam pbb.
6. Tidak menggunakan peraturan dari pertahanan kolektif dalam bertindak untuk kepentingan suatu negara besar.
7. Tidak mengancam dan melakukan tindak kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
8. Mengatasi dan menyelesaikan segala bentuk perselisihan internasional secara jalan damai dengan persetujuan PBB.
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
10. Menghormati hukum dan juga kewajiban internasional.

6. Tritura – Tiga Tuntutan Rakyat / Tri Tuntutan Rakyat Indonesia – Sejarah Setelah Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Tritura adalah kependekan atau singkatan dari tri tunturan rakyat atau tiga tuntutan rakyat yang dicetuskan dan diserukan oleh para mahasiswa KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan didukung oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia / ABRI pada tahun 1965 yang ditujukan kepada Pemerintah.

Sebelumnya tunturan pembubaran PKI serta perombakan kabinet pada pemerintah telah digaungi oleh KAP-Gestapu yang merupakan singkatan dari (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September).

Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat Berisi / Memiliki Isi :
1. Bubarkan PKI
2. Perombakan Kabinet
3. Turunkan Harga

7. Perundingan Perjanjian Garis Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Tetangga Malaysia, Thailand, Australia dan India

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melakukan penyelesaian masalah garis batas landas kontinen dengan negara-negara sahabat dengan semangat good neighboorhood policy atau semangat kebijakan negara bertetangga yang baik di antaranya dengan negara sahabat Malaysia, Thailand, Australia dan India.

1. Perjanjian RI dan Malaysia
- Penetapan garis batas landas kontinen kedua negara di Selat Malaka dan laut Cina Selatan
- Ditandatangai tanggal 27 oktober 1969
- Berlaku mulai 7 November 1969

2. Perjanjian Republik Indonesia dengan Thailand
- Penetapan garis batas landas kontinen kedua negara di Selat Malaka dan laut andaman
- Ditandatangai tanggal 17 Desember 1971
- Berlaku mulai 7 April 1972

3. Perjanjian Republik Indonesia dengan Malaysia dan Thailand
- Penetapan garis batas landas kontinen bagian utara
- Ditandatangai tanggal 21 Desember 1971
- Berlaku mulai 16 Juli 1973

4. Perjanjian RI dengan Australia
- Penetapan atas batas dasar laut di Laut Arafuru, di depan pantai selatan Pulau Papua / Irian serta di depan Pantau Utara Irian / Papua
- Ditandatangai tanggal 18 Mei 1971
- Berlaku mulai 19 November 1973

5. Perjanjian RI dengan Australia (Tambahan Perjanjian Sebelumnya)
- Penetapan atas batas-batas dasar laut di daerah wilayah Laut Timor dan Laut Arafuru
- Ditandatangai tanggal 18 Mei 1971
- Berlaku mulai 9 Oktober 1972

6. Perjanjian RI dengan India
- Penetapan garis batas landas kontinen kedua negara di wilayah Sumatera / Sumatra dengan Kepulauan Nikobar / Nicobar
- Ditandatangai tanggal 8 Agustus 1974
- Berlaku mulai 8 Agustus 1974

8. Ajaran Lebensraum, Autarki dan Pan-Region Oleh Karl Haushofer Orang Jerman – Pengertian dan Arti Definisi – Ilmu Sejarah Dunia

Ajaran Karl Haushofer (Jerman 1869-1946) adalah ajaran yang condong mengajarkan peperangan antara sesama umat manusia di mana ia beranggapan bahwa perang adalah bapak dari segala hal untuk kejayaan suatu bangsa dan negara.

Berikut ini adalah arti definisi / pengertian dari inti ajaran karl haushofer menurut kaum geopolitik :

1. Lebensraum
Lebensraum adalah hak suatu bangsa atas ruang hidup untuk dapat menjamin kesejahteraan dan keamanannya. Berdasarkan kaum geopolitik Jerman negara besar berhak berkembang dan memakan negara yang kecil yang dari dulu telah ditakdirkan untuk mati.

2. Autarki
Autarki adalah cita-cita untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Kaum geopolitik jerman menganggap bahwa negara yang besar dapat mengambil dan mendapatkan kekeyaan sumber alam dari negara yang kecil jika membutuhkan sumber alam.

3. Pan-Region
Pan-Region adalah pembagian wilayah-wilayah dunia menjadi perserikatan wilayah. Dalam setiap pan region memiliki adat dan budaya yang sama. Dunia internasional dibagi manjadi empat (4) pan region yaitu pan-amerika, pan-asia, pan-region Jerman dan Pan-region Rusia-India.

9. Jenis/Macam Sekolah Pada Zaman Kolonialisme Belanda Di Indonesia – Sejarah Jaman Dulu / Jadul

Pada saat penjajahan belanda dulu di Indonesia sempat didirikan berbagai jenis sekolah-sekolah belanda yang dibagi-bagi menjadi beraneka ragam jenis, yaitu :

1. ELS (Eurospeesch Lagere School) atau disebut juga HIS (Hollandsch Inlandsch School) sekolah dasar dengan lama studi sekitar 7 tahun. Sekolah ini menggonakan sistem dan metode seperti sekolah di negeri belanda.

2. HBS (Hogere Burger School) yang merupakan sekolah lanjutan tinggi pertama untuk warga negara pribumi dengan lama belajar 5 tahun. AMS (Algemeen Metddelbare School) mirip HBS, namun setingkat SLTA/SMA.

3. Sekolah Bumi Putera (Inlandsch School) dengan bahasa pengantar belajarnya adalah bahasa daerah dan lama study selama 5 tahun.

4. Sekolah Desa (Volksch School) dengan bahasa pengantar belajar bahasa daerah sekitar dan lama belajar adalah 3 tahun.

5. Sekolah lanjutan untuk sekolah desa (Vervolksch School) belajar dengan bahasa pengantarnya bahasa daerah dan masa belajar selama 2 tahun.

6. Sekolah Peralihan (Schakel School) yaitu sekolah lanjutan untuk sekolah desa dengan lama belajar 5 tahun dan berbahasa belanda dalam kegiatan belajar mengajar.

7. MULO Sekolah lanjutan tingkat pertama singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs dengan tingkatan yang sama dengan smp / sltp pada saat jika dibandingkan dengan masa kini.

8. Stovia (School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen) yang sering disebut juga sebagai Sekolah Dokter Jawa dengan masa belajar selama 7 tahun sebagai lanjutan MULO.

10. Organisasi Pergerakan Nasional Budi Utomo Menghadapi Kekuasaan Kolonial Hindia Belanda Tahun 1908

Budi Utomo adalah organisasi pergerakan modern yang pertama di Indonesia dengan memiliki struktur organisasi pengurus tetap, anggota, tujuan dan juga rencana kerja dengan aturan-aturan tertentu yang telah ditetapkan. Budi utomo pada saat ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu STM yang memiliki siswa yang suka tawuran, bikin rusuh, bandel, dan sebagainya. Biasanya anak sekolah tersebut menyebut dengan singkatan Budut / Boedoet (Boedi Oetomo). Pada artikel kali ini yang kita sorot adalah Budi Utomo yang organisasi jaman dulu, bukan yang STM.

Budi Utomo didirikan oleh mahasiswa STOVIA dengan pelopor pendiri Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang bertujuan untuk memajukan Bangsa Indonesia, meningkatkan martabat bangsa dan membangkitkan Kesadaran Nasional. Tanggal 20 Mei 1908 biasa diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional Indonesia.

Sebagai suatu organisasi yang baik, Budi Utomo memberikan usulan kepada pemerintah Hidia Belanda sebagai mana berikut ini :
1. Meninggikan tingkat pengajaran di sekolah guru baik guru bumi putera maupun sekolah priyayi.
2. Memberi beasiswa bagi orang-orang bumi putera.
3. Menyediakan lebih banyak tempat pada sekolah pertanian.
4. Izin pendirian sekolah desa untuk Budi Utomo.
5. Mengadakan sekolah VAK / kejuruan untuk para bumi putera dan para perempuan.
6. Memelihara tingkat pelajaran di sekolah-sekolah dokter jawa.
7. Mendirikan TK / Taman kanak-kanak untuk bumi putera.
8. Memberikan kesempatan bumi putra untuk mengenyam bangku pendidikan di sekolah rendah eropa atau sekolah Tionghoa – Belanda.

Kongres pertama budi utomo diadakan di Yogyakarta pada oktober 1908 untuk mengkonsolidasikan diri dengan membuat keputusan sebagai berikut :
1. Tidak mengadakan kegiatan politik.
2. Bidang utama adalah pendidikan dan kebudayaan.
3. Terbatas wilayah jawa dan madura.
4. Mengangkat R.T. Tirtokusumo yang menjabat sebagai Bupati Karanganyar sebagai ketua.

Pemerintah Hindia-Belanda mengesahkan Budi Utomo sebaga badan hukum yang sah karena dinilai tidak membahayakan, namun tujuan organisasi Budi Utomo tidak maksimal karena banyak hal, yakni :
1. Mengalami kesulitan dinansial
2. Kelurga R.T. Tirtokusumo lebih memperhatikan kepentingan pemerintah kolonial daripada rakyat.
3. Lebih memajukan pendidikan kaum priyayi dibanding rakyat jelata.
4. Keluarga anggota-anggota dari golongan mahasiswa dan pelajar.
5. Bupati-bupati lebih suka mendirikan organisasi masing-masing.
6. Bahasa belanda lebih menjadi prioritas dibandingkan dengan Bahasa Indonesia.
7. pengaruh golongan priyayi yang mementingkan jabatan lebih kuat dibandingkan yang nasionalis.

Keterangan :

Bumi Putera adalah bukan bank atau lembaga keuangan bisnis lainnya, tetapi yang dimaksud dengan bumi putera adalah warga pribumi yang pada zaman dahulu dianggap sebagai warga tingkat rendah dibanding warga ras eropa, cina, arab, dan lain-lainnya.

11. Sejarah Detik-Detik Proklamasi Dan Makna Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Pelaksanaan acara proklamasi hari kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia dilaksanakan pada tanggal 17 Augustus 1945 di Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta pukul 10.00 wib. Setelah bendera sang merah putih berkibar, para hadirin dengan spontan dan serentak menyanyikan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman.

Jadwal Acara Proklamasi 17-08-1945 :
1. Pembacaan proklamasi yang kemudian dilanjutkan dengan pidato singkat Ir. Soekarno.
2. Pengibaran Sang Bendera Merah Putih.
3. Kata Sambutan dari Suwiryo.
4. Sambutan dari Dr. Muwardi selaku panitia keamanan.

Makna Proklamsi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia :
1. Telah lahir sebuah negara dan bangsa baru yang merdeka dan berdaulat.
2. Adanya revolusi untuk memindahkan kekuasaan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
3. Bebas dari segala bentuk janji muluk kemerdekaan dari pemerintah Jepang.

12. Perlawanan Rakyat Saparua Tahun 1817 Kapitan Pattimura Maluku – Perjuangan Sebelum Kemerdekaan

Daftar Nama Pahlawan :
- Thomas Matulesi
- Kapiten Patimura
- Kapitan Paulus Tiahahu
- Kristina Martha Tiahahu

Penduduk Ambon-Lease memiliki unsur kehidupan yang dibawa dan dipadukan dengan budaya yang telah ada oleh VOC yaitu sistem perkebunan cengkeh, sistem pemerintahan desa dan sistem pendidikan desa. Sistem pemerintahan terjadi karena timbulnya daerah pemukiman baru.

Sistem perkebunan cengkeh mengharuskan menjual cengkeh rakyat ke VOC dengan harga yang ditetapkan sepihak. Hak pengolahan tanah dibagi menjadi tanah pekebunan cengkeh dan tanah pusaka warisan keluarga untuk ditanami bahan pangan untuk keluarga yang menggarapnya.

Ketiga jenis sistem tersebut menyebabkan keresahan masyarakat Maluku karena :
1. Banyak terjadi korupsi.
2. Adanya kewajiban membuat ikan asin dan garam untuk kapal perang belanda.
3. Pemuda negeri banyak yang dipaksa menjadi serdadu di Jawa.
4. Diberlakukan sirkulasi uang kertas di Ambon yang didapat dari hasil penjualan cengkeh namun untuk membeli barang di toko pemerintah harus memakai uang logam.
5. Hukuman denda dibayar dari hasil penjualan cengkeh serta ditambah biaya untuk kepentingan residen.
6. Penyerahan wajib leverantie bahan bangunan.
7. Adanya pelayaran hongi yang menebar penderitaan.

Tanggal 14 mei 1817 rakyat maluku bersumpah untuk melawan pemerintah dimulai dengan menyerang dan membongkar perahu milik belanda orombaai pos yang hendak membawa kayu bahan bangunan. Kemudian merebut benteng Duurstede oleh pasukan yang dipimpin Kapiten Pattimura dan Thomas Matulesi. Pattimura kemudian menyerang pasukan yang dipimpin beetjes untuk merebut benteng Zeelandia, namun sebelum menyerang zeelandia, Residen Uitenbroek di Haruku melkukan hal berikut :
1. Memberi hadiah kepada Kepala Desa.
2. Membentuk komisi pendakatan Kepala-Kepala Desa di Haruku.
3. Mendatangkan pasukan bala bantuan Inggris dengan Kapal Zwaluw.

Karena adanya bantuan Inggris, Kapten Pattimura terdesak masuk hutan dan benteng-bentengnya direbut kembali pemerintah.

Rakyat nusa laut menyerah tanggal 10 November 1817 setelah pimpinannya Kapiten Paulus Tiahahu serta putrinya Kristina Martha Tiahahu. Tanggal 12 November 1817 Kapitan Pattimura ditangkap dan bersama tiga penglimanya dijatuhi hukuman mati di Niuew Victoria di Ambon.

—–

Tambahan :
A. Arti definisi / pengertian Pelayaran Hongi
Pelayaran hongi adalah pelayaran yang diadakan oleh VOC tiap setahun sekali dengan kora-kora untuk patroli ke pulau manipa, seram dan buru untuk mengawasi daerah dilarang menghasilkan cengkeh yang menyebabkan banyak pedayung lokal yang mati kelaparan dan dibunuh VOC.

13. Tokoh-Tokoh Proklamasi 17 Agustus 1945 Dan Perannya Pada Persiapan Pelaksanaan Proklamasi

Berikut ini adalah daftar orang yang memiliki peran serta dalam mempersiapkan pelaksanaan proklamasi pada 17 agustus 1945 jam 10.00 wib di jl. pegangsaan timur no.56 jakarta. Berikut ini adalah nama tokoh tersebut beserta aktivitasnya pada waktu itu yaitu :

1. Soekarno dan M. Hatta
Kedua tokoh pahlawan Negara Indonesia itu merumuskan naskah proklamasi bersama dengan Soebardjo. Sukarno dan Bung Karno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan M.Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pertama.

2. Sayuti Melik
Beliau adalah tokoh yang mengetik naskah teks proklamasi setelah disempurnakan dari naskah tulisan tangan asli.

3. Sukarni
Sukarni adalah tokoh pemuda yang sebelumnya pernah memimpin asrama angkatan baru yang berlokasi di menteng raya 31.

4. B.M. Diah
Beliau merupakan tokoh yang berperan sebagai wartawan dalam menyiarkan kabar berita Indonesia Merdeka ke seluruh penjuru tanah air.

5. Latif Hendraningrat, S. Suhud dan Tri Murti
Mereka berperan penting dalam pengibaran bendera merah putih pada acara proklamasi 17-08-1945. Tri Murti sebagai petugas pengibar pemegang baki bendera merah putih.

6. Frans S. Mendur
Beliau seorang wartawan yang menjadi perekam sejarah melalui gambar-gambar hasil bidikannya pada peristiwa-peristiwa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia bersama kawan-kawannya di Ipphos (Indonesia Press Photo Service).

7. Syahrudin
Adalah seorang telegraphis pada kantor berita Jepang yang mengabarkan berita proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia ke seluruh dunia secara sembunyi-sembunyi ketika personil jepang istirahat pada tanggal 17 agustus 1945 jam 4 sore.

8. Soewirjo
Beliau adalah walikota Jakarta Raya yang mengusahakan kegiatan upacara proklamasi dan pembacaan proklamasi berjalan aman dan lancar.

14. Peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 Kongres Pemuda II – Satu Tanah Air, Bangsa dan Bahasa

Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua :

PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).

KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).

KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).

Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.

Apabila kita ingin mengetahui lebih lanjut mengenai banyak hal tentang Sumpah Pemuda kita bisa menunjungi Museum Sumpah Pemuda yang berada di Gedung Sekretariat PPI Jl. Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi utama seperti biola asli milik Wage Rudolf Supratman yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta foto-foto bersejarah peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda-pemudi Indonesia.

Kisah Gaib Dunia Penerbangan

1 Des

Majalah penerbangan Inggris terkemuka, Flight International, edisi akhir tahun lalu tidak seperti biasa isinya. Selain berisikan berita perkembangan teknologi kedirgantaraan dan penerbangan sipil maupun militer, kali ini majalah tersebut menurunkan tulisan tentang hal-hal gaib yang berkaitan dengan dunia penerbangan. “Apakah Anda percaya atau tidak, tetapi kisah-kisah hangar dan pesawat yang dihantui cukup banyak terjadi dalam dunia penerbangan,” Flight mengawali tulisannya mengenai misteri yang menyangkut Donald “Deke” Slayton, satu dari tujuh astronot pertama Amerika dalam proyek Mercury.Slayton yang dikirim ke orbit tahun 1975 dalam program Apollo-Soyuz adalah mantan pilot pembom PD II. Setelah pensiun dari NASA tahun 1982, Slayton yang dikenal sebagai penggemar olahraga terbang tetap meneruskan hobinya, menerbangkan pesawat kesayangannya yang dinamai “Stinger”. Pesawat sport bermesin piston yang dicat merah dan bernomor 21 di badannya, banyak dikenal orang di Bandara John Wayne di Orange County, California, karena sering diterbangkan Slayton di sana dengan manuver mendebarkan. Pesawat ini juga acap diikutsertakan dalam lomba-lomba di AS. Pernah pula diterbangkan jago lomba John Paul Jones. Akhirnya pada awal 1990-an, Deke Slayton berhenti terbang dan menyumbangkan pesawatnya untuk sebuah museum olahraga terbang di Nevada. Sejak itu pesawat ini nongkrong di museum.

Minggu 13 Juni 1993, Slayton meninggal dunia dalam usia 68 tahun di rumahnya di Houston, Texas, 2.225 km dari Orange County. Slayton berpulang dengan tenang pada pukul 03.22 karena tumor otak, ditunggui istri dan anaknya. Anehnya, pada Minggu pagi itu juga pukul 07.57, Bandara John Wayne dikejutkan dengan munculnya pesawat sport warna merah dengan nomor 21 yang diduga baru saja lepas landas dan langsung melakukan berbagai manuver terbang di atas Bandara.

Orang segera mengenali itu adalah pesawat Slayton. Kehadiran pesawat ini langsung menarik perhatian karena bunyi mesinnya yang di atas ambang batas langsung menyalakan alat-alat pemantau kebisingan yang dipasang di berbagai sudut Bandara. Bandara dilengkapi noise monitor stations karena masyarakat sekitarnya tidak mau diganggu bisingnya pesawat pada jam-jam tertentu.

Pesawat merah ini melanggar jam terbang Bandara. Aturannya, semua pesawat tidak boleh terbang sebelum pukul 07.00 pada hari biasa dan pukul 08.00 pada hari Minggu. Para saksi mata, termasuk para pilot pesawat komersial yang sudah antre untuk terbang, hanya tertegun menyaksikan ulah pesawat merah ini, yang kemudian terlihat terbang menanjak pelan ke arah barat dan menghilang ketika sampai di atas Pasifik yang pantainya tidak begitu jauh dari Bandara. Karuan saja pihak yang berwajib menegur Slayton yang dipastikan menerbangkan pesawatnya. Surat teguran dari Bandara terhadap pelanggaran jam terbang dan ambang batas kebisingan itu dilayangkan tanggal 28 Juni 1993.

Istri Slayton yang menerima surat memberitahu FAA, badan penerbangan federal AS, bahwa suaminya telah meninggal dunia sekitar lima setengah jam (termasuk beda waktu Texas dengan California) sebelum peristiwa itu terjadi. Selain itu pesawat yang dimaksud pun nongkrong di museum yang jaraknya ratusan mil dari Orange County. Pihak museum juga menegaskan, sekalipun pesawat sumbangan Slayton itu tidak dilepas mesinnya, pesawat tersebut tidak pernah diterbangkan lagi sejak masuk museum. “Deke Slayton adalah orang terakhir yang menerbangkannya,” kata Edward Maloney dari pihak museum.

Pesawat yang menghebohkan itu kini telah dipindahkan dari Nevada dan disimpan di museum pesawat terkenal, Planes of Fame Museum di Chino, California.

Kasus L-1011
Kisah lain yang disajikan Flight adalah soal penampakan awak sebuah pesawat komersial yang tampaknya tidak menyukai (atau justru sebaliknya?) apabila bagian-bagian dari bekas pesawatnya dipasang pada pesawat lain.

Desember 1972, sebuah pesawat L-1011 TriStar milik Eastern Airlines buatan Lockheed terbang dari Bandara John F. Kennedy di New York menuju Miami, Florida. Pesawat ini baru empat bulan dioperasikan. Malam itu pesawat bernomor penerbangan 401 ini membawa 163 penumpang dan 13 awak dengan captain pilot Robert Loft.

Menjelang tiba di Miami, awak kokpit melihat lampu indikator menyala menunjukkan bahwa roda pendarat tidak keluar. Pesawat pun berputar-putar untuk memberi waktu awak membetulkan kerusakan. Juru teknik Don Repo turun ke bagian bawah kokpit untuk melihat lewat periskop kecil apakah roda-roda dapat dikeluarkan, sementara captain Loft mengubah kemudinya dengan sistem autopilot.

Setelah dicek, diduga kesalahan mungkin pada lampu indikator. Tatkala lampu ditangani, diduga secara tak tersengaja kontrol autopilot tersentuh. Karena awak kokpit perhatiannya tersedot pada pembetulan lampu indikator, mereka pun tidak menyadari bahwa pesawat secara gradual terus turun dari ketinggian terbangnya.

Penerbangan ini pun berakhir ketika pesawat mencebur di rawa-rawa, 34 km dari ujung landasan Bandara Miami, dengan kecepatan 365 km/jam. Hantaman dengan rawa-rawa ini mengakibatkan 99 penumpang dan awak tewas seketika, dan dua lainnya menyusul kemudian. Pesawat mengalami kerusakan namun tidak sampai meledak atau terbakar, sehingga banyak bagian penting dari pesawat yang kemudian masih dapat diamankan dan dipakai untuk pesawat L-1011 Eastern lainnya.

Stelah itu, para awak pesawat lainnya yang memperoleh suku cadang atau bagian lain dari pesawat naas tersebut, sering melihat penampakan dari captain Loft dan mekanik Don Repo yang tewas dalam kecelakaan. Penampakan di dalam pesawat ini tentu menimbulkan ketakutan para awak, terutama yang sudah mengenal kedua koleganya.

Sering yang menyaksikan penampakan Loft dan Repo itu bukan hanya satu orang, beberapa orang sekaligus. Namun kedua spirit itu tidak mengganggu, bahkan dilaporkan bahwa dalam beberapa kejadian keduanya malah memberitahu awak kabin atau kokpit apabila akan timbul soal pada pesawat mereka.

Tentu saja manajemen Eastern Airlines menolak kisah-kisah penampakan dalam pesawat mereka. Bahkan CEO maskapai penerbangan ini, Frank Borman pernah akan menggugat produser film The Ghost of Flight 401, film buatan 1976 yang berisikan kisah penampakan tersebut. Kisah pemunculan Loft dan Repo ini lama-lama surut dan menghilang sendiri ketika Eastern memensiunkan armada pesawat TriStar yang lama.

Kembaran di angkasa
Kisah ini merupakan salah satu dari banyak kisah nyata yang ditulis oleh Martin Caidin dalam bukunya Ghosts of the Air (1998). James Don Cochrane, seorang siswa penerbang AL AS, tanggal 10 Oktober 1967 berlatih aerobatik dengan pesawat latih jet T-2B Buckeye di sekitar pangkalan udara AL di Meridian, Mississippi. Pagi yang cerah itu, empat pesawat latih diperintahkan mengudara. Karena mereka akan berlatih aerobatik, setiap pesawat telah ditentukan sektor udara masing-masing.

Cochrane terbang bersama pelatihnya yang duduk di belakangnya. Tatkala siap untuk memulai menuvernya dengan menanjak tinggi, high loop, sesuai prosedur ia minta izin pelatih serta memperhatikan lebih dulu keadaan di seputar pesawatnya, atas, bawah, kiri dan kanan. “Saya baru saja menengok ke kanan, namun entah kenapa saya merasa ingin menengok kembali ke arah itu,” katanya kemudian. Tatkala melihat lagi ke arah itu, betapa kagetnya, karena tidak tahu dari arah mana datangnya, tiba-tiba sebuah pesawat T-2B lain sudah terbang rapat ke pesawatnya. Ujung-ujung sayap kedua pesawat sangat berdekatan satu sama lain. Dengan jelas Cochrane melihat pesawat itu ternyata bernomor sama dengan pesawatnya. Aneh sekali, karena tidak mungkin AL memberi nomor yang sama untuk dua pesawat sejenis.

Sementara pelatih Cochrane sendiri perhatiannya penuh ke depan, menantikan siswanya segera memulai loop. Tetapi kebingungan Cochrane karena ada pesawat lain bernomor sama yang terbang menempel, segera menjadi keterkejutan hebat. Karena ketika ia memperhatikan kedua pilot pada pesawat lain, ternyata wajah pilot yang di depan persis dengan wajahnya sendiri! Bahkan “kembarannya” itu pun sempat melambaikan tangan ke arahnya, sesaat sebelum membelokkan pesawatnya menjauh darinya. “Karena kaget dan bahkan shock, saya pun mengalihkan pandangan ke arah lain. Sesaat kemudian ketika saya menoleh lagi ke arahnya, pesawat itu sudah lenyap.”

Cochrane yang belum hilang kekagetannya lalu bertanya kepada pelatihnya, apakah melihat ada pesawat lain di sekitar mereka. Jawabannya negatif, sama sekali tidak ada pesawat lain di sektornya. Ia tidak menceritakan apa yang baru dilihatnya kepada pelatihnya. Selesai latihan terbang, Cochrane yang masih penasaran lalu ke ruang pengawas penerbangan. Di sana ia mendapat penegasan, bahwa yang terbang pagi itu hanya empat pesawat, dan yang tiga lainnya dipastikan berlatih di sektor masing-masing, tidak ada yang nyelonong ke sektor Cochrane. Ia sampai kini tetap yakin betul dengan apa yang disaksikannya, meskipun tidak dapat menjelaskan fenomena tersebut.

Pilot hilang di rawa
Semasa PD II, Inggris menjadi pangkalan bagi para pilot berbagai bangsa yang memerangi Jerman Nazi, termasuk dari Polandia. Salah satu pangkalan RAF itu adalah Lindholme di South Yorkshire yang dikelilingi kawasan rawa yang luas. Suatu malam sebuah pesawat pembom berat jenis Halifax yang diawaki kru Polandia terpincang-pincang kembali ke Lindholme setelah melakukan misi pemboman di wilayah yang diduduki Jerman di daratan Eropa. Pesawat itu dalam kondisi parah dan berlubang-lubang terkena tembakan flak maupun pesawat pemburu Jerman. Pilotnya seorang sersan pilot, yang kondisinya tidak lebih baik dari pesawatnya. Tubuhnya terluka cukup parah, dan ia harus berkejaran dengan waktu untuk dapat mencapai Lindholme. Ini jelas tugas berat bagi seseorang yang terluka, apalagi di malam hari!

Sekalipun demikian, dengan sisa tenaganya ia masih mampu mengarahkan pesawatnya ke pangkalan. Ketika mendekati Lindholme, ia memerintahkan semua kru lainnya untuk terjun dengan payung, karena ia menyadari pendaratannya akan berisiko sekali mengingat kondisi pesawat maupun dirinya sendiri yang semakin payah. Sesudah para kru lainnya selamat terjun, sersan ini pun memulai ancang-ancang untuk mendarat. Namun pesawatnya keburu mati, tidak dapat dikendalikan, lalu nyungsep ke kawasan rawa-rawa dan langsung tenggelam tanpa meninggalkan bekas. Pihak pangkalan tidak mengetahui persis di mana pesawat itu terbenam, hanya menambahkan Halifax bermesin empat tersebut dalam statistik pesawat yang hilang dalam tugas.

Beberapa minggu sesudah kejadian itu, pangkalan yang letaknya terpencil ini kedatangan tamu tak diundang. Malam itu seorang pastor yang bertugas di pangkalan, bertemu seseorang berpakaian pilot lengkap dengan helm kulitnya. Kondisi pilot amat menyedihkan, tubuhnya berdarah-darah. Pastor yang sedang berjalan sendirian di lapangan ini ingat betul, pilot yang tertatih-tatih itu bertanya kepadanya dengan logat Polandia yang kental. “Sir, can you direct me to the sergeants’ mess?”. Pastor yang melihat kondisi sosok ini pun bermaksud menolong dan malah akan mengantarkannya ke tempat pengobatan. Belum sempat ia berucap, pilot itu sudah berjalan dan menghilang dalam kegelapan malam, secepat kemunculannya yang juga tiba-tiba.

Setelah kejadian misterius itu, berbulan-bulan pangkalan udara ini tidak mendapat kunjungannya lagi, sampai pada suatu malam seorang perwira ditemui pilot penuh luka yang kembali menanyakan arah menuju mes para sersan. Begitu usai bertanya, sosok itu pun lenyap dan perwira yang terkejut dan penasaran itu langsung memerintahkan pencarian. Namun pilot penuh misteri ini tidak pernah ditemukan. Setelah perang berakhir, penampakan “hantu Lindholme” acap masih terjadi dengan cara yang selalu sama. Tiba-tiba muncul, bertanya lalu menghilang. Karena itu para petugas pangkalan berusaha tidak keluar sendirian di malam hari.

Pertengahan 1990-an, pemerintah membongkar daerah rawa yang luas itu untuk menambang deposit peat yang banyak terdapat di dalamnya. Alat-alat berat pun bekerja di kawasan tersebut, hingga pada suatu hari operator alat berat merasakan alatnya membentur sesuatu benda metal di dalam rawa. Penggalian dilakukan dan para pekerja menemukan bangkai bomber Halifax, yang di dalam kokpitnya ditemukan kerangka pilot masih terbalut sisa pakaian terbangnya. Segera dilakukan penelitian, dan  dengan sikap hormat dan berhati-hati, kerangka itu dipindahkan. Penelitian arsip memastikan jenazah ini adalah sersan pilot Polandia yang hilang bersama pesawatnya lebih dari 40 tahun silam.

Kedutaan Polandia diberitahu akan penemuan ini. AU Kerajaan Inggris memerintahkan upacara pemakaman dengan penghormatan militer penuh. Upacara ini dihadiri kru Halifax lainnya yang masih hidup. Pilot yang hilang itu akhirnya diistirahatkan dengan baik dan sewajarnya. Sejak itu “hantu Lindholme” tidak pernah menampakkan diri lagi.

Awak B-25 di halaman sekolah
Kejadian hampir serupa dialami seorang bocah Filipina, Ged D. Dizon pada pertengahan 1961 di pinggiran Angeles City, Filipina. Petang hari itu ia sedang bermain di halaman sekolah yang sepi dengan adiknya yang berusia lima tahun. Tatkala asyik bermain, kedua anak ini tiba-tiba menyaksikan proses kemunculan sesosok asing di depan mereka. Mata mereka pun terbelalak ketakutan. Sosok itu tidak begitu jelas, agak berkabut dan bahkan seperti transparan. Meskipun masih kecil, Ged mengenali penampilan sosok itu berpakaian seperti seorang pilot AS atau awak pesawat terbang. Ged yakin betul apa yang dilihatnya benar-benar nyata. Baginya penampakan itu terasa asing sekali dan menimbulkan rasa takut yang luar biasa.

Karena itu ia dan adiknya segera lari dan menceritakan apa yang mereka lihat kepada orang tuanya. Namun mereka maupun orang lainnya tidak menanggapi cerita anak tersebut, bahkan menertawakannya. Hingga Ged Dizon beranjak besar, bayangan yang pernah ia lihat petang itu tidak pernah hilang dari pikirannya. Ia bersama adiknya, Ivan dan Daniel, mencoba mencari tahu misteri tersebut dengan mempelajari arsip-arsip, termasuk sejarah skadron AS yang menyerang Angeles City. Kawasan ini menjadi ajang pertempuran hebat mulai akhir 1944 hingga awal 1945.

Tanggal 7 Januari 1945, sebuah pembom B-25 Mitchell yang dinamai Sag Harbor Express melakukan serangan terbang rendah terhadap posisi Jepang di sekitar Angeles City. Naas pesawat ini entah disebabkan oleh apa, jatuh menghunjam Bumi dan menewaskan semua awaknya. Karena situasi dan kondisi peperangan yang hebat dan lama, Sag Harbor Express pun hanya dinyatakan hilang.

Dari penelitian Ged, termasuk mewawancarai orang-orang tua, diketahui bahwa B-25 tersebut hancur dan awaknya dikuburkan massal oleh penduduk. Penyelidikan lanjutan oleh Ged akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa sekolah tempatnya bermain dulu adalah bekas lokasi jatuhnya pesawat tersebut. Tempat ia berdiri ketika bermain-main suatu petang tahun 1961, adalah tempat para awak pesawat dikuburkan!

Akhirnya setelah dilakukan penggalian dan upacara misa arwah khusus bagi para awak serta pembuatan tugu peringatan, kelegaan dan ketenangan hati Ged Dizon pun tercapai. Demikian pula mereka yang tahu dan ikut dalam penguburan para awak B-25 tersebut, ikut merasakan semacam kedamaian hati.

Hantu Montrose
Tanggal 27 Mei 1913, Letnan Desmond L. Arthur berlatih terbang rutin dengan pesawat bersayap ganda BE-2 di atas pangkalan udara Montrose di Skotlandia. Tiba-tiba, dengan disaksikan banyak orang di bawah, pesawat itu berantakan di udara. Sayapnya terlepas dan badan pesawat tertekuk. Tak ayal pesawat ini meluncur ke Bumi, sedangkan Letnan Arthur pun terlempar keluar pesawat karena sabuk pengamannya putus. Ia tewas dalam kondisi mengenaskan.

Penyelidikan terhadap sebab musabab musibah ini pun segera dilakukan. Disimpulkan bahwa kecelakaan terjadi karena teknisi yang tidak becus. Bahkan sempat beredar rumor bahwa kejadian itu adalah sabotase. Tiga tahun berlalu, dan PD I pun sedang berlangsung hebat-hebatnya. Pangkalan Montrose penuh kesibukan melatih para calon pilot yang akan diterjunkan ke medan perang.

Suatu senja di musim gugur 1916, seorang perwira staf bernama Mayor Cyril Foggin tengah berjalan pulang ke mesnya. Agak jauh di depannya, ia melihat seseorang masih mengenakan pakaian terbang berjalan ke arah yang sama. Foggin tidak dapat mengenalinya secara jelas karena hari mulai gelap. Tetapi ia melihat sosok di depannya itu masuk ke mes, namun anehnya tanpa membuka pintu. Di dalam mes itu ia tidak menemukan pilot tersebut. Ia pun hanya geleng-geleng kepala, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah halusinasinya sendiri.

Beberapa hari kemudian, kejadian serupa terulang lagi. Menyadari dirinya sebagai perwira, Mayor Foggin tidak melaporkannya kepada siapa pun. Karena bila sampai membuat laporan, boleh jadi ia akan dinilai kurang pantas sebagai perwira senior dan kejiwaannya pun malah akan diperiksa. Hari-hari berikut, ternyata bukan hanya ia yang menyaksikan penampakan wujud tersebut. Pada mulanya, semua perwira yang juga melihat tidak mau bercerita kepada yang lainnya, sampai suatu hari seorang perwira instruktur terbang terjaga dari tidurnya karena merasa ada yang membangunkan.

Ia terduduk di tempat tidurnya, dan dalam keremangan mataya tertumbuk pada seseorang berpakaian terbang sedang duduk dengan santai di kursi, membelakangi tempat tidurnya. Perwira ini pun jengkel dan bertanya dengan nada keras seorang instruktur. “And who the bloody hell are you, and what the hell are you doing here!”. Sosok di kursi itu diam saja, perwira itu pun turun dari tempat tidurnya. Begitu didekati, sosok di kursi itu tiba-tiba lenyap. Karena keributan kecil ini, para perwira lainnya ikut terbangun dan terbukalah rahasia penampakan hantu tersebut. Sejak itu kabar mengenai penampakan tadi tersebar ke mana-mana, ke seluruh Royal Flying Corps. Sosok itu pun terkenal sebagai  “hantu Montrose”.

Akhirnya seorang redaktur majalah mencoba mengutak-katik misteri pemunculan sosok itu, yang kini sering membuat pengawal pos jaga lari terbirit-birit karena didatangi. Ternyata dari penelitiannya, ketahuan bahwa penampakan itu tampaknya dipicu oleh hasil penyelidikan ulang atas kasus tewasnya Letnan Arthur. Penyelidikan ulang pada musim panas 1916 menyimpulkan musibah itu terjadi bukan karena kerusakan struktur pesawat, melainkan sebagai akibat ketidakcakapan Arthur menerbangkan pesawatnya. Laporan itu dinilai mencemarkan nama baik dan kehormatan letnan tersebut, bahkan ketika dirinya sudah mati. Karena itu penampakannya seolah-olah seperti usahanya untuk membela kehormatannya.

Laporan redaktur itu pun membuat penyelidikan ketiga dilakukan. Kali ini hasilnya tegas-tegas mengonfirmasikan terjadinya kerusakan pada sayap pesawat sebagai penyebab kecelakaan. Letnan Arthur sendiri dinyatakan bersih. Hasil penyelidikan terakhir ini menutup kasus kecelakaan Mei 1913, dan hantu Montrose tercatat menampakkan dirinya terakhir kali pada 17 Januari 1917.

Sekalipun demikian, pesawat Arthur terkadang masih terlihat terbang, seperti pada masa PD II ketika Montrose dijadikan pangkalan pesawat tempur Hurricane. Suatu hari seorang pilot Hurricane marah-marah karena pendaratannya terlambat, gara-gara diganggu sebuah pesawat kuno bersayap ganda yang setiap kali memotong arah terbangnya. Namun kemudian ia heran sendiri ketika orang-orang di pangkalan tidak ada yang melihat adanya pesawat lain kecuali pesawat Hurricane tersebut. Orang-orang di bawah juga heran melihat Hurricane-nya yang setiap kali tiba-tiba berbelok tajam seolah-olah menghindari sesuatu dan membatalkan pendaratannya.

Kejadian serupa dialami tokoh penerbangan Inggris, Sir Peter Masfield pada tanggal 27 Mei 1963. Ketika terbang santai dengan pesawat kecilnya, Chipmunk dan melintas di atas bekas pangkalan udara Montrose, ia melihat sebuah pesawat bersayap ganda BE-2 terbang di depannya. Dengan jelas ia melihat pilotnya mengenakan helm kulit dan pelindung mata.

Tatkala Sir Masfield terheran-heran mengamati pesawat kuno itu, tiba-tiba pesawat tersebut patah sayapnya dan jatuh ke Bumi. Ia pun kaget lalu mendaratkan pesawatnya di lapangan golf. Namun orang-orang di situ mengaku tidak ada yang melihat pesawat lain yang terbang kecuali pesawatnya sendiri. Aneh bin ajaib.

F-16 TNI AU, Uncommon Stories

1 Des

F-16 TNI AU, Uncommon Stories

Selama ini F-16 Fighting Falcon dikenal sebagai pesawat yang telah menunjukkan kebolehannya dalam menjaga kedaulatan di udara. Buktinya tanggal 3 Juni 2003, sang elang berhasil menyergap pesawat militer asing di Laut Jawa. Peristiwa yang dikenal dengan Kasus Bawean ini seolah menyadarkan kita akan keberadaan pesawat buru sergap dalam menjaga kedaulatan di udara. Masih beberapa kasus pencegatan lagi dilakukan F-16. Karena bukan konsumsi publik, peristiwa ini hanya terekam dalam dokumentasi skadron dengan klasifikasi rahasia.

Bukan hanya lewat Kasus Bawean F-16 menghiasi halaman media masa. Sejak kedatangan Desember 1989, berbagai peristiwa penting telah dialami. Tengok medio 1996, enam pesawat F-16 yang dioperasikan Skadron Udara 3 tampil piawai sebagai tim aerobatik Elang Biru.  Lalu pada Juli  2000 dalam sebuah latihan rahasia di Lombok, berhasil menembakkan rudal AGM-65 Maverick di laut Jawa dalam keterbatasan sarana latihan.Urusan aerobatik masih terulang mesti keterbatasan mendera. Bergabung dengan tiga Hawk Mk-53 dan sebuah Hawk Mk-209, dua F-16 membentuk tim aerobatic Jupiter Blue. Tim ini tercatat sebagai tim aerobatik pertama di dunia memadukan tiga jenis pesawat dalam sebuah pertunjukkan. Sebelumnya AU Singapura hanya memadukan dua F-16 dengan empat A-4 Skyhawk dalam tim Black Night. Urusan perang kembali diulangi pada Oktober 2006. Beberapa rudal AIM-9P Sidewinder berhasil diluncurkan dan mengenai sasaran dengan telak, puluhan ribu kaki di atas langit Madiun.

Kemampuan tanguh
Sejujurnya pesawat F-16 ditempel ketat oleh Mirage 2000 sebelum dipilih TNI AU. Kemampuan lebih dan pengalaman tempur yang dimiliki F-16, menjadi dasar pemilihan. Sebut saja kemampuan tinggal landas dan mendarat pada landasan pendek, pernah dicoba dengan selamat dan aman. Saat itu satu flight F-16 mendarat di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta dan Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang dalam latihan rutin tahun 2001.

Dengan ditenagai mesin Part & Whitney F100-PW.229 berdaya 24.000 lbs, pesawat ini mampu melesat pada kecepatan 2.173 km/jam (Mach 2). Selain itu, F-16 mampu menanjak dan berbelok sangat tajam pada rate of turn 19 derajat/detik dengan beban 9G serta mendarat dengan landing roll hanya sejauh 600 m pada kecepatan 155 knot. F-16 milik TNI AU secara khusus dilengkapi drag chute. Sungguh pesawat tempur sangat andal, dengan side control berbasis fly by wire.

Untuk kelanjutan pengabdiannya, TNI AU telah mendadani F-16 dengan program yang disebut Falcon Up. Intinya agar bisa lebih lama lagi dioperasikan, minimal tambah 10 tahun. Program yang dapat diselesaikan selama dua tahun untuk sepuluh pesawat ini, menjadi prestasi tersendiri tatkala pelaksanannya Skatek 042 Lanud Iswahjudi. Dengan enam tenaga asing yang bertindak sebagai supervisi, proyek selesai tepat waktu. Untuk test pilot ditangani penerbang kita. Biasanya program Falcon Up dipercayakan kepada Lockheed Martin. Namun dengan kemandirian yang prima, ternyata aturan itu tidak berlaku di Indonesia.

Upaya mempercantik pesawat juga pernah dilakukan. Utamanya mengubah warna dari Triple Spot Grey (1989) menjadi Falcon Colors (1996). Era milennium diubah lagi menjadi Millennium Color Scheme (2000), termasuk menambah pernik nose number dan tail flash.

Tidak selamanya pengabdian itu berjalan mulus. Selama 17 tahun itu juga ada pengorbanan. Dua pesawat telah jatuh sewaktu latihan rutin. Pertama di Tulungagung dan kedua di Halim. Kejadian terakhir menewaskan Kapten Pnb Dwi Sasongko.

Sejumlah insiden minor juga mewarnai perjalanan pesawat seharga 32 juta dollar AS.
Mengacu jenisnya (jet tempur), mestinya F-16 masuk Skadron Udara 16 (baru). Aturan dalam sistem penomoran skadron di TNI AU, kavling angka 11 hingga 19 diberikan kepada jet tempur (kecuali angka keramat 17 untuk Skadron VIP). Faktor sejarah dan kebanggaan memaksa F-16 dijadikan Skadron Udara 3 dengan menggeser OV-10 menjadi flight OV-10 sebelum menjadi Skadron Udara 1. Di Skadron Udara 1 pun, OV-10 tidak bertahan lama sebelum terpaksa menjadi Unit OV-10. Baru nanti tahun 2002, OV-10 menetap di Skadron Udara 21 sesuai kavling peruntukannya sebagai pembom. Skadron ini dulu dihuni pembom taktis Ilyusin 28.

Memang F-16 diperlakukan sangat istimewa. Selain menghuni Skadron Udara 3, kehadirannya juga menggeser hangar yang dihuni A-4 Skyhawk. Sebelum kedatangan sang Falcon, Skyhawk asal Skadron Udara 11 terpaksa hengkang ke Makassar dalam operasi Boyong-2 (1988). Operasi Boyong-1 adalah pemindahan Skadron Udara 12 (A-4) ke Pekanbaru tahun 1984.

Tugas tak kalah spektakuler yang pernah dilaksanakan F-16 adalah, mengawal pesawat kepresidenan dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta sebelum bertolak ke Venezuela di malam hari

Para Sahabat AURI yang Terlupakan

1 Des

Mungkin tak banyak yang tahu keterlibatan penerbang asing dalam sejarah awal AURI. Tulisan ini mungkin bisa menggugah perhatian pembaca terhadap detail sejarah ini. Kebanyakan dari penerbang asing yang berpartisipasi adalah warga AS. Selain itu, banyak dari penerbang asing tersebut memiliki latar belakang yang menarik untuk disimak. Tak hanya sebelum mereka bergabung dengan AURI, juga setelah bergabung. Sementara pasukan Belanda mulai menguasai kembali kota-kota utama di Jawa Barat dan Jawa Tengah, semakin jelas kalau pemerintah Indonesia yang berada di Yogyakarta membutuhkan koneksi dari luar negeri. Baik untuk alasan politik maupun logistik.

Meskipun sejumlah pesawat bomber ditinggalkan Jepang, tak satupun laik terbang. Sementara pesawat bermesin tunggal yang berukuran lebih kecil tak memiliki jangkauan cukup untuk mencapai negara asing. Terlebih lagi, hanya segelintir pilot Indonesia yang cukup terlatih menerbangkan pesawat yang lebih canggih dan berukuran lebih besar.

Selain itu pilot-pilot ini sangat dibutuhkan di Indonesia untuk membentuk angkatan udara dan mengajarkan generasi muda yang mengajukan diri sebagai penerbang.

Pemerintah Indonesia kemudian harus mencari jalan lain. Yaitu mencarter pesawat dari perusahaan asing yang bersedia mengambil risiko mengusik pemerintahan Belanda.

Setelah akhir PD II, tidak ada pilot transport yang nganggur dan pesawat yang dapat dibeli dengan harga murah. Hal ini disebabkan demobilisasi menyusul penyerahan Jepang. Banyaknya infrastruktur komunikasi rusak akibat perang atau belum tersedia, membuat bisnis di Asia Tenggara terhitung prospektif. Karena itulah banyak airline kecil dibentuk pada masa ini. Pilot-pilot di airline muda ini umumnya veteran dari AS atau pilot transport negara persemakmuran. Mereka menerbangkan pesawat C-47 Dakota yang jumlahnya berlebih.

Pada Desember 1946, Opsir Udara III (OU III) Petit Muharto melawat ke Singapura menggunakan kapal boat melalui Tanjung Balai Karimun. Misinya, mencari informasi kemungkinan pembentukan penerbangan komersil antara Republik Indonesia. Terutama antara ibukota Yogyakarta dengan negara-negara Asia lain. Kelak, Muharto kerap berangkat sebagai pemandu bagi pilot-pilot airline komersil asing. Ia menunjukkan arah ke Maguwo.

Semi-official flights

Pesawat dari perusahaan asing tersebut segera mengambil alih penerbangan carter ke ibukota RI, Yogyakarta. Menurut biografi Ir. Wiweko Soepono, penerbangan internasional pertama ke Yogyakarta adalah pada 7 Februari 1947. Menurut catatan, pesawat yang digunakan adalah Dakota yang tercatat di Filipina dengan registrasi PI-C414. Penerbangan ini dari Singapura menuju Yogyakarta melalui Bukittinggi.

Sumber lain menyebutkan bahwa penerbangan ini terjadi pada 7 Maret 1947. Penerbangan ini dilanjutkan dengan lebih banyak lagi dari CALI (Commercial Air Lines Inc), Cathay Pacific Airways (baru saja dibentuk September 1946), POAS (Pacific Overseas Airlines of Siam) dari Thailand, South Eastern Airways dari India, Orient Airways dari Pakistan dan Kalinga Airlines dari India. Pada 8 Maret 1947, saat diadakan pameran kedirgantaraan Indonesia di Yogyakarta, sebuah pesawat Dakota milik CALI ikut dipamerkan di antara bekas pesawat Jepang.  Pada 24 Maret 1947, sebuah Dakota asing diterbangkan seorang warga AS Bob Freeberg antara Maguwo dan Singapura. Penerbangan ini digunakan untuk penerjunan pertama di atas Bukittinggi oleh OU II Sudjono dan OMU II Sukotjo.

Laporan intelijen Belanda menyebutkan bahwa pesawat C-47 Cathay Pacific Airlines melakukan sejumlah penerbangan antara Singapura dan Yogyakarta selama April 1947. Sumber sejenis dari Belanda juga menyebutkan bahwa pada 1947, sebuah Catalina terdaftar pada Trans Asiatic Airlines, melakukan sebuah penerbangan ke wilayah yang diatur oleh RI. Di tahun yang sama, Belanda menahan sebuah Avro Anson yang terbang ke Sumatra meskipun status penerbangan ini tidak jelas. Seringkali, identitas pasti pesawat dan pilot tidak dapat ditemukan. Patut dicatat juga bahwa kebanyakan penerbangan ini tidak betul-betul merupakan penerbangan pemecah blokade, karena mereka melapor pada ATC di Singapura, dan Belanda secara tidak langsung diinformasikan mengenai penerbangan ini.

Black flights

Meskipun begitu, banyak penerbangan lain saat itu sesungguhnya penerbangan gelap (black flights). Pacific Overseas Airlines of Siam merupakan airline kecil yang beroperasi di Thailand dengan hanya tiga C-47, satu C-54 Skymaster dan satu PBY Catalina. Kemudian pada 1951, POAS merjer dengan Siamese Airways untuk membentuk Thai Airways. Salah satu Dakota mereka, sebuah C-47A register HS-PC103, dengan pilot AS-nya David Fowler, muncul di sejumlah laporan Belanda. Fowler dan PC103 menjadi sasaran pemburu Belanda yang berpangkalan di Sumatra dan Jawa.

Menurut laporan Belanda ini, rute yang paling biasa adalah dari Bangkok ke Maguwo, Yogyakarta, melalui Singora di selatan Thailand, Singapura, Jambi dan Bukittinggi. Wilayah kekuasaan Belanda diterbangi saat malam hari untuk mengurangi risiko pencegatan. Pada September 1948, Belanda hampir berhasil menangkapnya. Saat itu PC103 kepergok pesawat tempur Belanda di atas wilayah Jambi sebelum malam tiba. Dua B-25 Mitchells Belanda kemudian melintas di atas landasan, namun mereka tidak melepaskan tembakan ke pesawat-pesawat yang dikamuflase dengan tiga dahan pohon. Fowler dan PC103 lepas landas pada malam berikut menuju Yogyakarta.

Berdasarkan laporan, penerbangan malam itu berhasil dituntaskan dan berhasil mendarat di Maguwo pada pagi buta. Ia tidak sadar bahwa pilot-pilot Belanda sebetulnya teah menerima perintah langsung dari General Spoor untuk tidak menembak jatuh pesawat Dakota karena sebagian penumpangnya orang asing. Termasuk paling tidak satu jurnalis AS dan mantan diplomat Inggris. Capt. Fowler beruntung malam itu. Namun keberuntungannya tidak berumur panjang. Satu bulan kemudian, pada 25 Oktober 1948, Capt. Fowler dan Dakota PC103 jatuh ke laut di pesisir Barat Sumatera. Kemungkinan ditembak jatuh pesawat Belanda.

Juga ikut terlibat dalam penerbangan gelap adalah Kalinga Airlines, sebuah airline berbasis di India. Penting diketahui adalah, bagaimana kepribadian pendiri dan pemiliknya. Bijayananda Patnaik, yang lebih dikenal dengan nama Biju Patnaik, lahir pada 1916 di negara Bagian India, Orissa.

Patnaik belajar aeronautik sebelum terlibat dalam bisnis dan politik. Ia aktif dengan Indian Freedom Movement yang menginginkan Inggris keluar dari India. Ia menjadi dekat dengan Nehru yang kelak menjadi Perdana Menteri dan secara aktif mendukung negara Asia lain yang tengah berjuang untuk kemerdekaan, seperti Indonesia. Terlebih lagi, Orissa State, dimana Patnaik lahir, secara histories adalah pusat kerajaan India Kuno, Kalinga (Kalingga). Kerajaan Kalingga ini menghubungkan India dengan kerajaan Indonesia kuno. Karena itulah Patnaik semakin beralasan untuk mendukung Indonesia. Di antara industri-industri lain, ia juga memulai sebuah airline yang diberi nama Kalinga Airlines seperti nama kerajaan kuno.

Tahun 1953, Kalinga Airlines melakukan merjer dengan tujuh airline domestik independen lain untuk membentuk national domestic airline Indian Corporation. Setelah menjadi pengusaha dan politisi berhasil, Patnaik tetap dekat dengan Nehru. Patnaik membantu Nehru dalam banyak operasi yang pelik. Seperti dukungan tersembunyi kepada bangsa Tibet yang menolak invasi Cina. Pada Oktober 1947, saat Sultan of Kashmir memutuskan bergabung dengan India, bukannya Pakistan. Pesawat Patnaik membantu mengangkut pasukan India ke Srinagar sementara pasukan Pakistan bergerak masuk ke kota tersebut.

Pada Juni 1947, Patnaik datang ke Maguwo dengan Dakota VT-COA dan tinggal selama lebih dari dua minggu di Yogyakarta. Capt. Sudaryono mengenang saat Patnaik berada di Maguwo. Dakota milik Kalinga Airlines digunakan untuk melatih pilot-pilot Indonesia. Pilot-pilot tersebut adalah A. Adisutjipto, Abdulrachman Saleh dan Iswahjudi. Menurut laporan, ketika VT-COA meninggalkan Maguwo menuju Singapura dan Delhi menjelang pengujung Juni 1947, Perwakilan Indonesia untuk India, Dr. Sudarsono juga ikut di pesawat. Laporan Belanda juga menyebutkan bahwa Dakota milik Kalinga Airlines-lah yang membawa Wakil Presiden M. Hatta ke India pada awal Juli 1947 untuk mengadakan pembicaraan dengan PM India, Nehru.

Karena ini adalah operasi rahasia, Hatta dilaporkan sebagai ko-pilot dengan nama Abdullah. Juga dinyatakan oleh sumber India bahwa Dakota yang diterbangkan Patnaik-lah yang mengevakuasi PM Sutan Sjahrir dari Indonesia pada 22 Juli 1947, sehari setelah Agresi Belanda I.

VT-CLA

Dakota VT-CLA yang ditembak jatuh dekat Maguwo oleh P-40 Kittyhawk Belanda pada 27 Juli 1947, juga tersedia untuk RI berkat bantuan Patnaik. Kebanyakan laporan yang ada menyebutkan bahwa VT-CLA terdaftar di Negara Bagian India, Orissa. Ada kemungkinan pesawat ini dibeli Patnaik. Kemungkinan sebagai bagian dari armada Kalinga. Juga perlu disebutkan bahwa pilot dan kopilotnya adalah orang asing. Yakni seorang berkebangsaan Australia mantan perwira RAAF, Noel Constantine dan seorang berkebangsaan Inggris mantan perwira RAF, Roy Hazelhurst. Keduanya tewas dalam kecelakaan bersama Komodor Udara Adisutjipto, Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, operator radio Adisumarno Wirjokusumo, Zainal Arifin dan teknisi India, Bidha Ram. Akibat luka yang parah, istri Constantine juga tewas tak berapa lama setelah kecelakaan. Satu-satunya yang selamat adalah Abdul Gani Handonotjokro.

Setelah Agresi I pada Juli 1947, berlangsung serangkaian penerbangan bantuan yang membawa persediaan obat-obatan masuk ke RI. Sebuah Dakota Air India terbang ke Maguwo pada 26 Agustus 1947 dengan perbekalan di bawah pengawasan dokter Nirula. Juga ada catatan sejumlah penerbangan yang dicarter International Red Cross pada 27-28 Agustus 1947, dan pada 17 September 1947. Paling tidak dua penerbangan dilakukan Dakota AU Inggris sesuai permintaan International Red Cross.

Bob Freeberg

Diperkirakan Robert Earl Freeberg pertama kali berhubungan dengan Indonesia karena di Singapura ia bertemu OU III Muharto. Bob Freeberg, sebagaimana ia dikenal, adalah seorang mantan pilot AL AS yang berdasarkan catatan, menerbangkan P4Y-2 Privateers, sebuah B-24 Liberator milik USAAF versi patroli laut. Setelah perang, ia bekerja sebagai pilot komersial di Asia Tenggara. Penerbangan pertamanya ke Maguwo adalah pada Maret 1947 dengan Dakota milik CALI. Ia dipandu Muharto. Pada 24 Maret 1947, Freeberg kembali ke Singapura, melintasi Bukittinggi dimana ia meninggalkan OU III Sudjono dan OMU I Sukotjo.

Selain terbang untuk CALI, Freeberg juga pemilik C-47 yang dibeli dari war surplus di Clark Field, Filipina. AURI menjadi tertarik menggunakan pesawat ini. Terlebih lagi, Freeberg membuktikan dirinya sebagai pilot hebat dan dapat dipercaya. Pengaturan pun dibuat, dan pada 6 Juni 1947, Freeberg lepas landas dengan Dakota dari Filipina menuju Maguwo melalui Labuan di Kalimantan Utara. Tanpa Muharto sebagai pemandu, Freeberg tentunya luput melihat beberapa checkpoint visual. Alhasil ia mendapati dirinya kekurangan bahan bakar di atas pesisir selatan Jawa.

Tanpa banyak pilihan, ia mendarat di pantai dekat Cikalong, selatan Tasikmalaya. Kabar pendaratan Dakota ini segera tiba di landasan Cibeureum di Tasikmalaya, dan Maguwo diinformasikan. Berdasarkan informasi ini, Muharto diterbangkan ke Cibeureum dan menuju pantai. Untuk memungkinkan Dakota lepas landas, penduduk setempat membangun dua bilah bambu yang dialaskan pada roda Dakota. Pada 9 Juni 1947, Freeberg membawa C-47 ke Maguwo. Pesawat tersebut segera dioperasikan AURI dan mendapat nomor registrasi RI-002. Nomor 2 karena RI-001 disediakan untuk pesawat presiden.

Pada hari berikutnya, RI-002 bertolak menuju Manila melalui Labuan dengan Freeberg sebagai pilot dan OMU III Muharto sebagai kopilot. Pada saat itu pihak berwenang Filipina menunjukkan simpati pada alasan Indonesia, dan Philippine Army Intelligence Service memutuskan mengirim seorang instruktur ke Indonesia.

Misi tersebut dilimpahkan pada Capt. Ignacio Espina, yang biasa dipanggil Igning. Espina adalah seorang mantan pejuang gerilya melawan pendudukan Jepang di Filipina selama PD II. Ia telah mendapatkan latihan dari Amerika. Espina ke Indonesia membawa sebuah Tommy-gun (submachine Thompson) berplat krom sebagai hadiah untuk Presiden Sukarno. Tepat setelah serangan Belanda pada 21 Juli 1947, Freeberg menerbangkan suatu misi ke Manila melalui Bukittinggi. Di Bukittinggi, OU Sudaryono turun karena di Sumatera kekurangan pilot.

Misi terkenal lain yang dicapai Freeberg dan RI-002 adalah operasi udara Indonesia pertama pada 17 Oktober 1947. Saat itu 13 pasukan para diterjunkan di atas Kotawaringin di Kalimantan. Masih bulan Oktober, RI -002 kembali ke Manila dengan kadet Indonesia yang sebetulnya ditujukan untuk mendapatkan pelatihan pilot di Filipina. Namun, di bawah tekanan politik, administrasi Filipina memodifikasi latihan terbang menjadi pelatihan teknis. RI-002 juga biasa menerjunkan dua pasukan para AD di atas Madura, dengan OMU III Sudjono sebagai jumpmaster.

Pada 23 Desember 1947, Freeberg dan RI-002 terbang ke Manila dengan delegasi Indonesia ke konferensi ECAFE (UN Economic Commission for Asia and the Far East). Sementara Espina melakukan aksi bunuh diri di Yogyakarta, dan otorita Filipina meminta agar jenazahnya segera dipulangkan. RI-002 kembai ke Maguwo, dan lepas landas lagi ke Manila pada 29 Desember 1947. Di dalam Dakota, disamping jenazah sang pilot Filipina, juga terdapat 20 kadet Indonesia yang akan diturunkan di Bukittinggi sebelum RI-002 melanjutkan ke Manila. Rute ini lebih panjang, namun bisa menghindari wilayah yang dikuasai Belanda. Meskipun begitu, kondisi cuaca di atas Pekanbaru sangat buruk sehingga Freeberg tidak punya pilihan selain mendarat di Bandara Changi di Singapura.

Di Singapura, pesawat, awak dan penumpang ditahan otorita Inggris. Para kadet segera dibebaskan dan mereka harus mencari jalan ke Sumatera melalui laut dengan menumpang kapal selundupan Captain John Lee. Captain Sudarmo mengenang bagaimana mereka tiba di Labuhan Bilik dan melanjutkan perjalanan ke Rantau Prapat, Sumatra Utara dengan berjalan kaki. Mereka berjalan selama 10 hari melalui pegunungan dan hutan hingga Tapanuli, terus ke Bukittinggi.  Mereka harus menunggu hingga Mei 1948 sebelum bisa berangkat ke Burma menggunakan RI-002 dan kemudian bergabung dengan sekolah penerbang di India.

Sementara RI-002 dan awaknya tetap di Singapura selama tiga minggu. Selama itu pesawat diinspeksi dan para awak diinterogasi oleh tentara Inggris. Akhirnya mereka diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke Manila dengan peti mati Capt. Espina. Tindakan ini memicu protes keras dari pihak otorita Belanda terhadap pihak otorita Inggris.

Sepanjang paruh tahun 1948, Freeberg dan RI-002 melakukan banyak penerbangan logistik dan penghubung antara ibukota Republik, Yogyakarta dan Sumatra. Selama Juli 1948, Presiden Soekarno dan delegasi berkeliling Sumatera menggunakan RI-002. Di saat yang sama mereka mengumpulkan uang untuk membeli Dakota lain, kelak RI-001. Pada 1 Oktober 1948, Freeberg seharusnya menerbangkan RI-002 dari Maguwo ke Bukittinggi, dengan kopilot OU III Bambang Saptoadji, fight engineer OMU I Sumadi dan operator radio Sersan Udara Suryatman.

Mereka berhenti di lapangan udara Gorda dekat Serang. Di sini mereka menurunkan 20 kg emas, kemudian mampir di lapangan udara Branti dekat Tanjung Karang. Setelah lepas landas dari Tanjung Karang, RI-002 tidak melapor melalui radio sebagaimana prosedur biasa dan tidak pernah tiba di Bukittinggi. Reruntukan pesawat tersebut ditemukan secara kebetulan pada 1978 di cekungan Bukit Pungur di Lampung dan sisa-sisa awak yang tidak dapat diidentifikasi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang pada 29 Juni 1978. Tepat di Hari Bhakti TNI AU.

Beberapa versi telah diterbitkan menyangkut hilangnya Freeberg dan RI-002. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Belanda menahan pesawat sewaktu di darat, mengambil emas atau benda berharga di dalamnya kemudian membiarkan pesawat lepas landas dan menghancurkannya. Versi yang paling masuk akal adalah bahwa RI-002 ditembak jatuh di atas Lampung saat malam hari oleh fighter Belanda. Satu versi menyebutkan bahwa pesawat Belanda sebetulnya mencari Dakota PC103 Fowler saat mereka memergoki RI-002 Freeberg dan menembaknya. Karena tidak ada satu pun dari versi tersebut yang dikonfirmasi Belanda, kegagalan mesin tidak dapat diabaikan. Saat RI-002 diinspeksi di Changi, dilaporkan bahwa pesawat kondisinya tidak baik. Catatan Indonesia juga menyebutkan bahwa RI-002 terpaksa membatalkan dua misi di bulan Mei dan Juni 1948 karena kerusakan mesin dan hidrolik.

RI-005 Cobley

Setelah Agresi I dan AURI kehilangan pangkalan udara Malang, pangkalan laut Campurdarat dekat Tulungagung menjadi pusat kegiatan utama AURI di Jawa Timur. Personel berasal dari bekas pangkalan di Malang, Surabaya dan Maospati. Komandan pangkalan OU II Mantiri, menunjukkan ketertatirkan untuk memiliki seaplane untuk menjaga hubungan udara antara Campurdarat dan bagian lain di Indonesia yang masih dikuasai kaum Republik.

Pada Juli 1948, Mantiri mendengar kalau sebuah Catalina dengan nomor registrasi Australia terbang ke Indonesia. Mantiri segera melobi pimpinan AURI untuk mengundang pilot dan seaplane ke Campurdarat. KSAU Suryadarma setuju dan AURI menghubungi pilot bersangkutan. Pilot yang juga pemilik pesawat Catalina itu adalah seorang berkebangsaan Australia, R.R. Cobley.

Pesawat yang dimilikinya merupakan bekas RAAF. Catalina ini dibeli Cobley usai perang dan terdaftar di Australia sebagai VH-BDP. Foto langka yang ada menunjukkan bahwa pesawat dicat warna gelap. Sebuah laporan dari pilot B-25 Belanda menyebutkan bahwa mereka pernah memergoki sebuah Catalina hijau di Jambi pada akhir September 1948. Hampir pasti pesawat yang dimaksud RI-005.

Cobley biasa terbang antara Campurdarat, Jambi dan Singapura. Di mata Belanda, penerbangan ini dianggap illegal dan menuduh Cobley menyelundupkan opium dan berlian untuk Indonesia. Menurut buku Belanda, adalah Cobley yang membawa pemimpin komunis Muso dan Suripno dari luar negeri ke Yogyakarta. Di sisi lain terdapat versi berlawanan mengenai kembalinya Muso.

Tidak ada bukti yang ditemukan bahwa Cobley dan RI-005 terlibat sejauh penelitian yang sudah dilakukan. Pada 29 Desember 1948, selama Agresi Belanda II, RI-005 terdampar di Sungai Batanghari di Jambi dengan masalah pada satu mesinnya. Banyak melihat pesawat Belanda yang mengincar sasaran, Cobley memutuskan untuk mencoba terbang ke Singapura. Ia menganggap di Singapura Catalina-nya akan aman hingga tindakan agresif Belanda berhenti. Nyatanya, salah satu mesin mati saat Cobley mencoba lepas landas. Catalina menabrak penghalang, kemungkinan tanggul atau sebuah kapal kecil. Catalina berikut awaknya pun tenggelam ke dasar Sungai Batanghari.

Awak terdiri dari pilot Cobley, kopilot Warton dan flight engineer J. Londa tenggelam saat Catalina masuk ke dalam lumpur pekat. Meskipun pihak otorita Belanda menyebut Cobley sebagai bajak laut dan penyelundup, Inggris beranggapan lain. Seorang mantan diplomat Inggris, John Coast di kemudian hari menyebutkan bahwa Cobley telah menjadi partisan demi tujuan Indonesia.

 

Para Sahabat AURI yang Terlupakan (Bagian II)

 

Pada bagian pertama sudah dikisahkan kegigihan dan kerelaan berkorban dari Bob Freeberg, David Fowler, Bijayananda Patnaik, Ignacio Espina dan R.R. Cobley. Dan masih ada dua penerbang yang namanya sering disebut ketika memperingati peristiwa ditembaknya VT-CLA, Noel Constantine dan Roy Hazelhurst. Pada bagian kedua ini Anda akan diajak menelusuri lika-liku pengabdian para legiun asing ini seiring dengan terdamparnya RI-001 di Burma.

RI-006 Fleming
Catalina kedua, sebuah pesawat amfibi, PBY-5A, mendapat registrasi RI. Pesawat amfibi ini dilaporkan sebelumnya terdaftar di Filipina dan dimiiki oleh pilot Amerika, James Fleming. Menurut sumber Belanda, RI-006 paling tidak melakukan tiga penerbangan bolak-balik antara Yogyakarta dan Manila. Jelas bahwa RI-006 beroperasi hanya beberapa bulan bagi RI. Pada November 1948, RI-006 melakukan perjalanan ke Jambi dan Payakumbuh dengan Fleming sebagai pilot, kopilot OU III R.A. Patah dan seorang flight engineer Billani “Bill” Valenova.Di malam sebelum Agresi II, Fleming dan RI-006 melakukan penerbangan ke Tanjung Karang di Lampung. Ia mengangkut penumpang dan dijadwalkan kembali keesokan harinya. Capt. Fleming dengan kopilot OU Suharnoko Harbani dan flight engineer Bill tiba di atas Maguwo. Mereka tidak sadar kalau landasan udara tersebut sudah jatuh ke tangan Belanda. Menurut laporan, mereka mendarat setelah berpapasan dengan pesawat Belanda hingga memaksa Feming untuk mendarat. Pesawat dan awak ditahan militer Belanda. Fleming dibebaskan jauh lebih dulu. Kemungkinan karena tekanan diplomatik dari AS.

Saat Fleming melapor ke Konsulat AS, ia menyebutkan bahwa dirinya sadar kalau bandara Maguwo berada di tangan Belanda. Ia tetap memutuskan mendarat karena tidak mengangkut barang-barang illegal. RI-006 diterbangkan ke Kalijati oleh pilot Belanda. Dilaporkan bahwa pesawat tersebut diserahkan ke Dutch Naval Aviation MLD dan digunakan sebagai sumber suku cadang bagi MLD Catalina.

Indonesian Airways, the Burma Operation
Seperti diketahui, Presiden Sukarno berkeliling Sumatera dengan Bob Freeberg menggunakan RI-002 guna mengumpulkan dana pembeli pesawat. Beberapa bulan setelah itu, Oktober 1948, sebuah Dakota yang pantas dibeli berhasil ditemukan. Sesungguhnya, otorita Indonesia berpikir untuk membeli sebuah Lockheed Hudson dengan registrasi VH-ASV. Pesawat ini merupakan bekas pesawat patroli laut RAAF dan setelah perang dimodifikasi jadi pesawat transport dengan kapasitas 10 penumpang.
VH-ASV telah melakukan sejumlah penerbangan antara Eropa dan Australia selama 1947 dan 1948, membawa imigran ke Australia. Di pertengahan 1948, pesawat dilaporkan berada di Burma dengan tail wheel rusak dan dilaporkan dijual. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa AU Burma sesungguhnya ingin membeli Hudson. Pada awal Agustus 1948, VH-ASV dilaporkan datang ke Bukittinggi dan Pekanbaru, dan OU III Wiweko Soepono meninggalkan Rangoon melalui Kutaraja (Aceh) pada 3 Agustus 1948 dengan misi mengevaluasi pesawat sebelum dibeli.

Menurut evaluasi Wiweko, dibutuhkan pesawat lebih besar dengan jangkauan lebih jauh karena blokade Belanda. Oleh karena itu pembelian Hudson dibatalkan. Sementara Maryunani, perwakilan Indonesia di Burma memperkenalkan dua pilot asing kepada Wiweko. Yaitu Capt. James Tate dan Capt. James Maupin. Kedua pria ini mantan captain-pilot China National Aviation Corporation (CNAC).

Patut diketahui sejarah singkat keberadaan CNAC. China National Aviation Corporation didirikan pada 1929 sebagai joint venture antara pabrik pesawat Amerika Curtiss-Wright Corporation dan pemerintah Cina. Idenya untuk memulai sebuah jaringan rute udara antara kota-kota utama negara berwilayah luas yang masih dalam proses penyatuan tersebut. Pada awalnya, hubungan antara kedua negara seringkali pelik, Pan American Airways mengambil alih airline dari Curtiss-Wright pada 1933.

Dari basis operasi aslinya di Sanghai, CNAC bertindak sebagai pelopor penerbangan komersil untuk Cina yang selalu membuka jalur. Saat Jepang menyerang Sanghai pada 1937, CNAC kehilangan banyak peralatan dan memindahkan basis utamanya ke Hongkong. Kelak tepat setelah serangan Pearl Harbor, airline tersebut harus memindahkan markas besarnya ke Kalkuta setelah Hongkong menjadi sasaran Jepang. Pesawat DC-3 yang dimiliki mengevakuasi sekitar 400 penumpang dari Hongkong yang ricuh.

Saat itu, CNAC sudah memulai misi penerbangan pendukung di Cina untuk American Volunteer Group (AVG), yang lebih dikenal sebagai Flying Tigers. CNAC juga memulai penerbangan perintis di atas pegunungan Himalaya, yang disebut pilot sebagai “Hump”. Penerbangan Hump menjadi kegiatan utama CNAC selama perang. Terutama setelah Burma Road kalah oleh sekutu. Saat itu sejumlah awak pesawat hilang dalam lebih dari 35.000 penerbangan di atas Himalaya. CNAC juga melakukan banyak penerbangan untuk mendukung pasukan Sekutu yang beroperasi di Burma.

Pasukan Sekutu ini seringkali jauh dari jalur utama perbekalan. Terhitugn sejak 1942, CNAC mulai mengecat roundel di pesawat untuk memudahkan identifikasi. Roundel ini menggambarkan piringan berwarna biru gelap dengan karakter Cina “Chung” berwarna putih di tengahnya. Chung berarti tengah atau pusat. Cina juga dikenal sebagai “Kingdom of the Middle”. Simbol Chung ini kemudian tetap tergambar pada logo airline hingga berhenti beroperasi. Setelah Perang Dunia II berakhir, CNAC kembali ke Hongkong dan Shanghai. Namun Cina saat itu menjadi medan pertempuran antara kekuatan Nasionalis Chiang Kai Sek dan partisan Komunis Mao Ze Dong.

Sementara pasukan Nasionalis mundur, begitu juga CNAC. Airline ini kehilangan banyak daerah tujuannya yang diambil alih Communist Popular Army. Meskipun begitu, CNAC saat itu berupaya memperluas rutenya ke negara Asia lain. Contohnya, C-46 dan C-47 CNAC dapat ditemui di Burma setelah perang. CNAC juga memulai penerbangan ke Benua Amerika (San Fransisco) dengan transit di Honolulu, Hawaii, menggunakan DC-4 baru mereka. Destinasi internasional lain termasuk Kalkuta melalui Hongkong dan Kunming, serta Manila melalui Hongkong.

Menariknya, CNAC juga melakukan penerbangan survei tunggal dari Sanghai ke Indonesia antara tanggal 21 dan 28 Agustus 1947. Pesawat survei tersebut adalah C-54 dan transit di Hongkong, Saigon, Bangkok dan Singapura sebelum mendarat di Batavia. Meskipun begitu, penerbangan survei ini tidak diikuti oleh dibentuknya rute reguler. Dengan kota-kota besar Cina susul-menyusul jatuh ke tangan komunis, menjadi jelas bahwa CNAC mendekati akhir. Airline ini sebetulnya ambil bagian dalam evakuasi darurat melalui udara dari sejumlah kota yang menjelang jatuh ke tangan komunis.

Saat kehilangan sebuah DC-3 akibat tembakan antipesawat pada Oktober 1947, manajemen CNAC dengan putus asa mencoba untuk mencegah pesawat tersebut jatuh ke tangan Red Chinese. Meskipun begitu, November 1949, sementara airline beroperasi dari Hongkong, awak Cina hengkang dengan membawa serta 10 Dakota.

Akhir CNAC datang pada 31 Desember 1949, saat China National Aviation Corporation secara resmi dihapus. Saat itu kebanyakan armada CNAC grounded di Hongkong Kai Tak Airport. Yang tinggal dari CNAC adalah pilot dan staf teknik dalam jumlah cukup besar dengan pengalaman luas. Mereka biasa bekerja dalam kondisi terburuk, biasa mengambil risiko dan kebanyakan dari mereka bersedia untuk menetap di Asia.

Banyak dari pilot dan staf airline ini yakin bahwa terdapat peluang yang besar untuk perkembangan transport udara di Asia. Mereka pun mulai bekerja untuk semua airline kecil yang muncul di Asia setelah PD II. Airline-airline ini armadanya terutama terdiri dari pesawat Dakota sisa-sisa perang.

James Maupin dan James Tate adalah dua di antara pilot-pilot tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan, tidak banyak informasi bisa menjelaskan soal karir kedua pilot ini sebelum bergabung dengan CNAC. Kecuali bahwa Capt. Maupin memiliki alamat surat di Ohio semasa perang dan Capt. Tate selalu mengenakan seragam dengan topi pilot sementara yang lain berpakaian biasa. Kedua veteran CNAC ini berhubungan dengan mantan pilot CNAC lain bernama Ladnor Maurice Moore atau Lad Moore.

Lahir di Texas pada 1914, Moore belajar menerbangkan pesawat pada pertengahan 1930-an. Ia menjadi instruktur terbang bagi USAAF di Jones Field, Bonham, Texas hingga 1943 atau awal 1944. Ia kemudian pindah ke Asia dan bergabung dengan CNAC pada Februari 1944. Catatan CNAC menunjukkan bahwa Moore yang sudah menjadi captain, melakukan 252 penerbangan “Hump” dengan C-47 Dakota di atas Himalaya selama dua tahun terakhir perang.

Moore tetap bekerja dengan CNAC dan terbang terutama di Cina. Ia menerbangkan C-47 dan pesawat Curtiss C-46 Commando. Di pertengahan 1947, Moore meninggalkan CNAC. Sejak itu tidak ada data yang bisa ditemukan lebih rinci mengenai kehidupannya hingga ia tibat-tiba terlibat dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia pada 1948 atau 1949.

Setelah pembelian Hudson VH-ASV dibatalkan oleh AURI atas saran OU III Wiweko Soepono, Indonesia mulai mencari pesawat yang lebih besar. Jika mungkin, sebuah pesawat C-47.

Maupin dan Tate setuju membantu mencarikan pesawat Dakota dan mulai menjalin hubungan dengan AURI. Terdapat sejumlah data yang berlawanan. Seperti, tak jelas di mana pesawat Dakota ditemukan dan yang kemudian menjadi RI-001. Tidak jelas pula apakah pertama kali dibeli dari sisa perang di Filipina, atau memang sudah ada di Hongkong pada waktu itu. Terlebih lagi, pemilik Dakota sebelum dibawa ke Indonesia kemungkinan Lad Moore atau James Maupin.

Sebuah buku Belanda menyebutkan bahwa Dakota VR-HEC dibeli Capt. Lad Moore. Bahwa masalah administratif muncul karena Moore adalah warga negara Amerika. Sementara hanya warga negara Inggris yang diperbolehkan memiliki pesawat registrasi Hongkong. Saat itu Hongkong masih menjadi koloni Inggris. Masalah kemudian terpecahkan. Kemungkinan dengan menggunakan perantara orang atau perusahaan Inggris. Atau mungkin Cathay Pacific mendaftarkan Dakota tersebut, dan VR-HEC meninggalkan Hongkong pada September 1948 menuju Rangoon.

Pilot penerbangan ini bisa jadi Capt. Maupin atau Capt. Moore, atau mungkin keduanya. Dalam inspeksi saat kedatangan, Wiweko mendapati kondisi umum pesawat dan mesin memuaskan. Kecuali kenyataan bahwa tanki bahan bakar tambahan untuk jarak jauh yang diminta tidak terpasang. Pembelian tuntas pertengahan Oktober, meskipun Indonesia belum mampu membayar lunas. Akhir Oktober 1948, dengan Wiweko Soepono bertindak sebagai navigator untuk pihak Indonesia, VR-HEC menggalkan Rangoon menuju Maguwo. Pilotnya adalah Capt. Maupin, kopilotnya antara Moore atau Tate.

Selain itu ada flight engineer orang Amerika yang kemungkinan adalah Wallace Casseberry. Untuk mencegah pencegatan oleh pesawat tempur Belanda, VR-HEC mengambil rute yang lebih jauh. Yaitu melalui Pekanbaru dan Jambi sambil mengisi bahan bakar. Penerbangan dilanjutkan ke pesisir selatan Jawa sehingga tidak akan terbang di atas wilayah yang dikuasai Belanda. Terlebih lagi sebagian penerbangan di atas kepulauan Indonesia dilakukan pada ketinggian rendah. Saat kedatangan di Maguwo, registrasi pesawat dimodifikasi menjadi RI-001 oleh Direktorat Penerbangan Sipil AURI.

RI-001 segera beroperasi dan dilaporkan melakukan penerbangan bolak-balik Maguwo-Rangoon, setelah Dakota membawa Wapres Muhammad Hatta berkeliling Sumatera pada November 1948. Tempat singgahnya adalah Jambi dan Payakumbuh dimana Wapres tinggal. RI-001 terus ke Kutaradja (Aceh) sehingga rakyat Aceh dapat melihat pesawat yang telah dibeli dengan donasi mereka. Misi penerbangan tidak biasa yang lain dilakukan pada 29 November 1948. Tujuannya untuk mengambil foto udara Gunung Merapi sebagai permintaan Jawatan Pertambangan dan Geologi.

Rencana awal AURI untuk memasang tanki jarak jauh pada RI-001 sama sekali tidak diabaikan. Karena Dakota juga membutuhkan perbaikan, diputuskan untuk menerbangkan pesawat ke India dan melakukan operasi kedua di sana. Pada awal Desember 1948, RI-001 menuju Payakumbuh dengan awak biasa, bersama kelompok kadet ALRI. Di Payakumbuh, OU III Soetardjo Sigit bergabung dengan para awak. Penerbangan dilanjutkan pada 4 Desember menuju Kutaradja tempat para kadet turun.
Dua hari kemudian, RI-001 lepas landas menuju Kalkuta. Patut diingat bahwa pada saat itu RI-001 belum lunas dibayar oleh RI. Untuk itu OU III Wiweko Soepono berada di India sejak pertengahan November, berjuang mengumpulkan uang yang telah disiapkan guna membeli RI-001. Juga hadir di India saat itu OU III Soedaryono. Ia diserahi tanggung jawab mengurus 20 kadet Indonesia dalam menjalani latihan di dua sekolah penerbang di India. “Perintahnya langsung dari Suryadarma,” jelas Soedaryono satu ketika. Saat kedatangan di Kalkuta, Sutardjo Sigit menghubungi Wiweko di Delhi. Keduanya bertemu dan Wiweko meminta Soedaryono untuk bergabung dengan mereka di Kalkuta.

Sementara itu di Indonesia menjadi jelas bahwa pasukan Belanda bersiap untuk melakukan serangan besar-besaran. Menghadapi suasana yang makin memanas, pihak Republik menyiapkan rencana untuk mengevakuasi tokoh kunci Republik dari Yogyakarta. Sayangnya, pada pertengahan Desember, RI-001 yang diharapkan sebagai alat utama evakuasi belum siap untuk terbang kembali ke Indonesia. Pesawat tersebut sedang menjalani overhaul. Tanki bahan bakar tambahan pun belum dipasang dan pesawat masih dicat kamuflase.

Sebagai pengganti, pesawat bermesin empat De Havilland DH-86 disewa oleh pemerintah dan tiba di Maguwo. Namun terlambat sudah. Serangan udara Belanda atas Maguwo pada 19 Desember1948 dan berhasil mendudukinya, memungkinkan Belanda menahan DH-86 di darat dan dilanjutkan dengan menahan RI-006.

Karena Republik kembali dikuasai dan komunikasi terputus dengan Yogjakarta, para perwira AURI di India harus berhadapan dengan sejumlah masalah. Di satu sisi mereka harus membayar ongkos overhaul dan modifikasi. Sementara mereka belum bisa kembali ke Indonesia dengan pesawat tersebut, mereka masih harus membayar sewa untuk landasan dan hangar di India. Ditambah biaya hidup awak. Karena itulah muncul ide untuk membentuk airline charter. Namun otorita India tidak memenuhi permintaan RI-001 untuk beroperasi di India.

Meskipun begitu, Perwakilan Indonesia di India, Dr. Soedarsono (ayahanda Menhan Juwono Soedarsono), sudah berupaya keras. Solusi datang dari Burma ketika Perwakilan Indonesia di sana, Maryunani menginformasikan kepada Wiweko bahwa ada kebutuhan untuk pesawat charter di Burma. Di masa-masa itu, Union of Burma Airways tidak memiliki pesawat lebih besar daripada De Havilland Dove. Terlebih lagi, negara itu tengah dilanda perang saudara dan pesawat transport seperti Dakota akan dibutuhkan. Baik untuk kegunaan sipil maupun militer.

Berkat bantuan seorang jurnalis Burma dari Burma Post bernama U Maung Maung, otorisasi untuk beroperasi di Burma dikabulkan pada 20 Januari 1949. Pada 26 Januari 1949, RI-001 yang dikamuflase beserta personel AURI di Kalkuta, meninggalkan bandara menuju Mingladon, Rangoon. Dalam dua hari, Indonesian Airways terdaftar di Burma. Awaknya adalah Captain-pilot James Maupin, kopilot Soedaryono dan Soetardjo Sigit, operator radio Sumarno dan flight engineer Wallace Casselberry.
Casselberry berkebangsaan Amerika dan lahir pada 1912. Ia adalah mantan Line Chief CNAC dan kenal betul dengan Maupin, Tate, dan Moore, di masa-masa mereka berkiprah di Cina.

Terbang di Burma
Meskipun Capt. Maupin adalah captain-pilot Indonesian Airways yang resmi, terdapat bukti dari log book bahwa James Tate dan Lad Moore juga menerbangkan RI-001 sebagai captain-pilot sejak Februari 1949 hingga seterusnya. Saat itu langkah ini penting karena tidak ada pilot Indonesia yang memiliki kualifikasi diakui internasional sebagai captain-pilot. Hanya dalam waktu singkat, RI-001 dan kelompok Indonesian Airways mengalami masa-masa sibuk. Permintaan atas pesawat transport berukuran besar ternyata betul-betul sangat tinggi.

Terlebih lagi, RI-001 disewa oleh dua pelanggan yang berbeda. Pertama, Civil Union of Burma Airways membutuhkan pesawat seukuran Dakota untuk mengangkut penumpang dan kargo dari seluruh negeri. Burma saat itu dalam kondisi perang saudara dengan sejumlah etnik minoritas. Transportasi udara kadangkala satu-satunya penghubung yang paling mungkin antara Rangoon dan kota-kota utama. Contohnya jalan utama antara Rangoon dan kota terbesar kedua Mandalay, kebanyakan terputus sepanjang 1949 dan 1951.

Kekisruhan disebabkan pemberontakan etnik, ditambah lagi dengan aksi pemberontakan Burmese Communist Party yang sudah dimulai sejak 1946. Bahkan sebelum Burma resmi menjadi negara merdeka. Pasukan mereka dinamai Red Flag dan akhirnya berhasil dikalahkan oleh AD Burma. Saat itu AD Burma disebut Burmese Volunteer Force dan mendapat dukungan pesawat transport RAF karena masih di bawah kekuasaan Inggris.

Setelah kemerdekaan pada Januari 1948, partai komunis melanjutkan pemberontakannya. Kali ini dengan nama White Flag Army. Sementara Karens yang awalnya bergabung dengan pasukan Burma untuk melawan komunis, malah berbalik ikut memberontak. Diawali serangan milisi Burma pada hari Natal 1948 terhadap Karens yang sebagian besar beragama Kristen. Alhasil Karens bersama Komunis menjadi ancaman paling serius bagi pemerintah pusat. Minoritas muslim di propinsi Arakan di pesisir selatan juga memberontak karena mereka lebih memilih bergabung dengan Pakistan daripada Burma. Nasib baik bagi pemerintah pusat, kelompok pemberontak tidak pernah saling menggabungkan diri atau mengoordinasikan aksi mereka.

Union of Burma Air Force (UBAF) yang disebut Tandaw Lay di Burma, tadinya memiliki beberapa pesawat tempur seperti Spitfire. Pilot-pilotnya dilatih oleh Inggris selama perang dan bertugas dengan bantuan personel RAF yang ditempatkan di UBAF. Meskipun begitu, terdapat kekurangan pesawat transport untuk mengangkut pasukan ke pelosok negeri dan untuk menerbangkan perbekalan bagi pasukan yang tengah bertempur melawan pemberontak.

Sejumlah perusahaan kargo saat itu beroperasi di Burma. Pesawat seperti Dakota, C-54 atau Curtiss C-46 Commando CNAC dapat ditemui di Bandara Mingladon di Rangoon. Namun tidak satu pun dari operator ini yang siap untuk misi penerbangan berbahaya mengangkut perbekalan ke garis depan .… kecuali Indonesian Airways.

Airline yang baru terdaftar ini segera didekati oleh Kantor Perang Jenderal Bo Ne Win untuk menerbangkan logistik ke berbagai zona pertempuran. Setelah berkonsultasi, personel Indonesian Airways menerima pekerjaan tersebut. Karena Bo Ne Win memiliki dana tetapi tidak memiliki pesawat transport, pekerjaan ini justru menjadi jalan guna meningkatkan pendapatan airline, walau disadari berbahaya. Usaha airline berjalan baik. Selama Februari 1949, adalah hal biasa bagi RI-001 untuk terbang hingga empat misi per hari.

SAS vs ABRI ;HAMPIR MATINYA BENNY MOERDANI DI FRONT MALAYA

1 Des

SAS vs ABRI ;HAMPIR MATINYA BENNY MOERDANI DI FRONT MALAYA

Benny Moerdani (alm)

Kesulitan menangkal penyusupan pasukan lawan tidak hanya menimpa ABRI. Diseberang perbatasan Inggris juga mengalami hal serupa. Situasi tersebut menyebabkan pihak Inggris mendatangkan bantuan pasukan Gurkha dan tambahan pasukan dari Australia dan Selandia baru. Inggris tidak mungkin membangun pagar betis di sepanjang perbatasan yang panjangnya 1000 km. Mereka juga tak mampu menyebar pasukan hanya untuk menjaga wilayah berhutan lebat, penuh bukit dan lembah curam. Untuk mengatasi kesulitan alam tersebut kemudian dihadirkan satu skadron pasukan komando SAS ! SAS merupakan kesatuan komando elite Inggris. Dalam setiap gerakan, mereka selalu menggunakan empat anggota. Dengan kekuatan terbatas, SAS harus sanggup melakukan operasi militer, menyusup jauh di daerah lawan, tanpa perlu kembali ke pangkalan untuk jangkan waktu lama. SAS dikirim ke Kalimantan Utara setelah Mayor Jenderal Walter Walker, panglima pasukan Inggris, tidak mau menderita kerugian lebih besar. Walker berpendapat, hanya SAS yang mampu menangkal penysusupan gerilyawan Indonesia. Tugas SAS mengacau wilayah pertahanan lawan dengan menyusup jauh, masuk ke wilayah Indonesia.

Dalam posisi sama-sama menentang Malaysia, Indonesia mendukung gerilyawan TNKU. Pasukan untuk membantu TNKU memakai nama Detasemen Sukarelawan Malaya. nantinya, mereka merupakan bagian Brigade Sukarelawan Bantuan Tempur Dwikora. Keanggotannya berbaur antara warga Malaya, sukarelawan Indonesia serta berbagai kesatuan ABRI. Pada bula-bulan pertama konfrontasi, keterlibatan ABRI masih selalu di samarkan. Tetapi ketika konflik semakin meningkat, tak ada lagi alasan untuk bersembunyi. Secara terbuka ABRI mulai melatih, membekali dan ikut menyeberang perbatasan.

Menghadap pasukan Inggris yang profesional dan terlatih baik, Indonesia mulai mengalami banyak korban, Buku Sejarah Operasi Operasi Gabungan dalam Rangka Dwikora menyebutkan: “Untuk mengurangi jumlah korban, Indonesia mulai memasukkan pasukan ABRI, sebab mereka lebih berpengalaman dalam bertempur. Sehingga pada pertempuran 10 Juli 1964 di kampung Sakilkilo dan Batugar di Sabah, NKU meraih kemenangan pertama. Dalam pertempuran satu peleton TNKU melawan dua peleton tentara patroli Inggris dan Gurkha, TNKU berhasil menewaskan musuh 20 orang tanpa pihaknya menderita korban”.

Selama bertugas di perbatasan Kalimantan Utara, Benny harus menyamar. Dia bukan prajurit ABRI. Dia mendapat identitias baru sebagai sukarelawan. Seragammnya di ganti seragam TNKU yang berbeda warna dan modelnya dengan pakaian seragam ABRI. Dalam posisi sebagai anggota TNKU, namanya masih tetap Moerdani namun disamarkan sebagai warga Kalimantan Selatan, kelahiran Muarateweh, kota kecil ditepi Kapuas. Dengan jatidiri ini Benny memimpin pasukan gerilya menganggu pertahanan Inggris.

Pada saat melakukan penyusupan ke seberang perbatasan, Benny nyaris tewas. Peristiwanya di catat rinci dalam laporan SAS. Laporan tersebut nantinya diketahui Benny, ketika tahun 1976 berkunjung ke Inggris. Disana dia sempat bertemu muka dengan kedua orang prajurit Inggris yang nyaris menembaknya dirinya.

Insiden di atas terjadi pada sebuah sungai kecil di perbatasan Kalimantan Timur. Iring-iringan perahu gerilyawan Indonesia menyusuri sungai sementara anggota SAS telah siap menghadang. Benny, yang sedang berada di sampan paling depan, sudah muncul dalam sasaran tembak. Senapan telah diangkat, siap dibidikkan. Tetapi…. picu tidak jadi ditarik.

“Apa betul kamu bertugas disana waktu itu??” tanya Benny kepada kedua prajurit Inggris tersebut dalm pertemuan pribadi.
“Yes Sir,”jawab mereka serentak.
“Why didn;t you pull the trigger??” desak Benny ingin tahu.

Salah seorang prajurit segera mengamit rekannya, yang langsung memberi jawaban, “He told me to wait for the Queen Elizabeth, Sir”. Queen Elizabeth nama kapal penumpang terbesar milik Inggris. Maksud prajurit Inggris tersebut, mereka belum jadi menembak karena merasa, masih harus menunggu dulu kapal besar lain, yang mungkin mengikuti iring iringan sampan.
Ternyata, tidak pernah ada perahu besar lewat. Dengan demikian, Benny justru bisa luput dari tembakan.

Mendengar pernyataan bekas lawannya, Benny berkomentar, If you had pulled the trigger, you know, you would’ve caused the highest ranking casualty on our side….(Kau tahu, andaikan kau jadi menarik picu, waktu itu kamu akan berhasil membikin korban dengan pangkat tertinggi pada pasukan kami..”.

Dan dalam sebuah operasi penyergapan di pedalaman Kalimantan Timur, para gerilyawan TNKU pernah mencegat pasukan SAS. Dalam pertempuran sengit, seorang pasukan SAS tertawan, satu tertembak mati dan dua lainnya lari ke wilayah Sabah. Keberhasilan meringkus anggota SAS oleh Benny segera disampaikan kepada Achmad Yani.

Peristiwa tersebut sangat penting, sebab Indonesia kemudian akan punya bukti, pasukan Inggris melakukan penyusupan ke wilayah Indonesia. Bukti hidup tersebut akan dipakai sebagai bahan propaganda. Sayang, jalur transportasi menuju lokasi tempat tawanan berliku liku. ketika pasukan penjemput tiba, anggota SAS tersebut telah terlanjur tewas, akibat luka luka yang dia derita. Insiden tersebut dicatat Thomas Geraghty dalam buku Who dares Wins, The Story of the SAS 1950-1980 :” Hanya seorang prajurit SAS pernah ditawan musuh. Seorang prajurit luka parah sesudah disergap dan tak pernah diketemukan. tetapi, pimpinan resimen mengetahui, berdasar pengakuan masayarakat suku terasing, dia akhirnya meninggal, sebelum berhasil dikorek pengakuannya”

Mayat anggota SAS yang tertawan akhirnya dikuburkan di tengah hutan Kalimantan, hanya dog-tags tali leher berisi nama dan nomor induk pemilik, berikut senjatanya di kirim ke Jakarta sebagai tanda bukti….

sumber: Disadur dari Buku Benny, Tragedi Seorang Loyalis, Julius Pour

DWIKORA ; TERGANYANG DI MALAYSIA

1 Des

TERGANYANG DI MALAYSIA

Pesta untuk sang marinir telah usai berjam-jam lalu. Dia tengah mengayuh sampan nelayan menembus garis belakang pertahanan Malaysia di Tawao. Sampan itu dipenuhi kepiting untuk dijual. Siapa kira timbunan kepiting itu hanya kedok untuk menutupi senjata. Setelah tiga hari mengayuh dan berhasil melewati patroli kapal perang Inggris, sampan itu mendarat di pantai yang sepi di sebelah utara Tawao, Sabah. Target pertama si marinir: menemui seorang haji yang akan menjadi penghubung.

Sial! Haji itu ditangkap tentara Malaysia beberapa hari sebelumnya. Di penanggalan, tercatat waktu: Desember 1964.

Kenangan 42 tahun silam itu kembali berputar di kepala Pembantu Letnan Satu (Purnawirawan) Manaor Nababan, 64 tahun, ketika menuturkan nostalgia itu kepada Tempo, pekan lalu. Ia beruntung pulang dengan utuh seusai konfrontasi Ganyang Malaysia. Tapi teman-temannya? Jangankan nyawa, kerangka pun tidak. “Saya berat bicara soal ini,” ujarnya sembari terisak.

Manaor adalah anggota intelijen tempur Korps Komando (KKO) Angkatan Laut. Ia salah satu dari 30 marinir yang mendapat latihan intelijen di Pulau Mandul, selatan Tarakan, Kalimantan Timur. Mereka disaring dari sekitar 3.000 marinir yang bersiaga di perbatasan-menunggu titah untuk mengganyang Malaysia.

Tugas pun datang kepadanya pada akhir 1964. Pria dari Dolok Sanggul, Tapanuli, ini diperintahkan untuk memetakan posisi dan menghitung kekuatan lawan di sekitar Tawao. Seorang anggota KKO lain dan satu sukarelawan menemani Manaor. Mereka juga bertugas mencari tempat pendaratan terbaik-di wilayah yang berstatus protektorat Inggris kala itu.

Misi ini sejatinya one way ticket alias tak ada jaminan pulang dengan selamat. Maka, “Malam sebelum berangkat, saya dipestakan. Kami makan-makan dan diberi semangat,” kata bapak enam anak ini. “Barangkali juga itu perpisahan.”

Manaor dan kedua rekannya berhasil menyusup ke Tawao. Namun karena penghubungnya tertangkap, mereka masuk hutan. Dua bulan di belantara, Hendrik-sukarelawan TNI bekas bajak laut-tertangkap saat berbelanja makanan. Mereka tak berkutik ketika dikepung tentara Inggris dan Malaysia.

Sebelum Manaor, sekitar empat kompi marinir berhasil menyusup hingga ke Kalabakan, sekitar 50 kilometer di belakang perbatasan Sabah. Pasukan kecil itu dipimpin dua anggota KKO paling disegani, Kopral Rebani dan Kopral Subronto. Keduanya adalah anggota Ipam (Intai Para Ampibi, sekarang disebut Detasemen Jalamangkara) dan sudah kenyang asam-bergaram dalam aneka operasi tempur.

Pada 29 Desember 1963, unit kecil itu berhasil melumpuhkan pos pertahanan tentara Malaysia di Kalabakan. Dalam sejarah militer Malaysia, kejadian ini dikenang sebagai Peristiwa Kalabakan. Dari 41 anggota Rejimen Askar Melayu Diraja yang bersiaga di pos , 8 tewas dan 18 lainnya luka-luka. Salah satu yang mati adalah Mayor Zainal Abidin, komandan kompi. Tapi ajal juga menghadang Rebani dan Subronto di saat pulang.

Januari 1964. Di perairan Tawao, kapal patroli Inggris memergoki rakit mereka. Haram untuk menyerah kepada Inggris. Di bawah bulan yang sedang purnama, perang pecah: rakit versus kapal, senapan melawan meriam. Rebani, Subronto, dan 22 anggota KKO gugur. Tiga tentara berhasil meloloskan diri, yakni Kelasi Satu Rusli, Suwadi, dan Bakar, dicokok pasukan Gurkha di pantai.

Saat ditangkap, mereka sedang mengumpulkan mayat rekan-rekannya yang dapat diseret ke darat. Para Gurkha tak memberi mereka kesempatan untuk menguburkannya. Jenazah dibiarkan tergeletak di pantai!

Adalah Rusli yang menyampaikan cerita itu kepada Manaor. Ia bertemu Rusli sekilas saat keduanya diterbangkan dari kamp tawanan Jesselton (Kinibalu) ke Johor Bahru, Semenanjung Malaysia, awal 1966.

Di Semenanjung, keduanya ditahan di tempat terpisah. Rusli dan 21 tentara yang dijatuhi hukuman 11-13 tahun dibui di Negeri Sembilan. Manaor dikerangkeng di Detention Camp Johor. Sekitar 502 prajurit Indonesia dari berbagai angkatan dikurung di sini untuk digantung karena menjadi penceroboh (pengacau-Red).

Konfrontasi Indonesia-Malaysia yang dikenal sebagai Dwi Komando Rakyat resmi diumumkan oleh Presiden Soekarno di Istana Negara, Jakarta, 3 Mei 1964. Muasalnya adalah upaya Inggris menggabungkan koloninya di Kalimantan (Sabah, Serawak, dan Brunei) dengan Semenanjung Malaya pada 1961. Soekarno, yang menganggap Malaysia sebagai boneka Inggris, memerintahkan tentara untuk menggagalkannya. Caranya, dengan membantu perjuangan rakyat setempat.

Waktu itu sekitar seribu tentara dan sukarelawan menyusup ke Malaysia. Jumlah ini tak sebanding dengan gembar-gembor pemerintah, yang mengatakan ada 22 juta sukarelawan Front Nasional Ganyang Malaysia dan sekitar 8.000 anggota TNI bersiap di perbatasan. Saat dilakukan normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia pada Juni 1966, beberapa ratus pejuang tinggal nama. Mereka tak pernah kembali, seperti kisah Rebani-Subronto.

Manaor dan alumni Dwikora yang berhasil kembali hidup-hidup rupanya punya cita-cita memulangkan kerangka kawan mereka ke Tanah Air. Sayang, upaya yang telah dilakukan berpuluh-puluh tahun itu belum membuahkan hasil. Belakangan, hasrat untuk membawa pulang kerangka-kerangka itu makin menjadi. “Kami tak mungkin menunda lagi karena sudah tua,” kata Kolonel Marinir (Purn.) W. Siswanto, 68 tahun, Ketua Ikatan Keluarga Eks Tawanan Pejuang Dwikora.

Kini usia rata-rata pelaku pertempuran itu di atas 60 tahun-sudah di tubir makam. Jika mereka meninggal, ingatan akan pertempuran yang mereka alami akan ikut mati. “Ini menyulitkan identifikasi saat pemulangan kerangka dilakukan,” ujar mantan Komandan Tim Brahma I Marinir di sektor barat (Semenanjung Melayu) itu.

Maksudnya, kesaksian para alumni Dwikora dibutuhkan untuk mengidentifikasi kerangka rekan-rekan mereka. Sebab, prajurit Indonesia yang turut dalam operasi infiltrasi itu menggunakan nama-nama samaran Melayu, tidak ada identitas Indonesia yang dibawa. Pangkat, seragam, dan atribut yang dipakai umumnya milik Tentara Nasional Malaya.

Identifikasi kerangka jenazah bakal mudah jika pemulangan dilakukan lebih cepat. Tapi, itu muskil. Bukan karena mereka terlupakan oleh teman-teman seperjuangannya, “Namun karena situasi politik belum memungkinkan,” kata Siswanto.

Berbeda dengan rekan-rekannya dari Resimen Pelopor (sekarang Brigade Mobil) dan Angkatan Darat, nasib korban Dwikora dari KKO dan Pasukan Gerak Cepat (PGT, sekarang Pasukan Khas TNI Angkatan Udara) terlunta-lunta. Penyebabnya: kedua kesatuan dituduh terlibat pemberontakan PKI.

Tahun 1990-an, ketika sebagian pelaku konfrontasi sudah berpangkat dan menjadi pejabat teras kemiliteran, usaha mulai digulirkan. Saat itu salah seorang tokoh eks Dwikora, Mayor Jenderal Marinir (Purn.) Mohamad Anwar (almarhum), mengirimkan surat permintaan kepada Menko Polkam Laksamana (Purn.) Sudomo. Permintaan tersebut ditanggapi positif dengan pembentukan Tim Penelitian dan Inventarisasi Pemindahan Makam Pejuang Dwikora oleh Menteri Sosial Haryati Subadio.

Pemimpin tim itu adalah Mayor Jenderal (Purn.) Rudjito (almarhum). Hasil kerjanya segera terlihat. Ditemukan 168 prajurit dan sukarelawan yang gugur di Malaysia. Pada masa Menteri Sosial Inten Soeweno dua tahun kemudian, tim tetap dipertahankan dengan beberapa pembaharuan.

Tiba-tiba, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Mayor Jenderal Sudibyo memerintahkan penghentian inventarisasi pada 6 Januari 1996. Alasannya: upaya itu dikhawatirkan bakal merusak hubungan Indonesia-Malaysia.

Reformasi membawa angin segar. Ratusan pensiunan prajurit rendah, ditambah beberapa perwira menengah yang purnatugas, menghimpun diri dalam Ikatan Keluarga Eks Tawanan Pejuang Dwikora tahun 1999. Mereka menghidupkan kembali cita-cita memulangkan kerangka rekan-rekannya. Ketua Ikatan Eks Tawanan Pejuang Dwikora saat itu, Kolonel Mar (Purn.) Kadar Mulyono-kini almarhum-mengirim surat kepada Presiden Megawati pada Januari 2003. Surat itu hingga kini tak berbalas.

Lelah menunggu, dua tahun kemudian para pejuang “mengadu” ke DPR. Ketua DPR Agung Laksono menyatakan mendukung rencana pemulangan kerangka prajurit eks Dwikora di Malaysia. Pada saat bersamaan, muncul tanggapan positif dari Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. “Pak Menteri berjanji akan melakukan koordinasi dengan pejabat terkait dan presiden,” kata Siswanto. Lagi-lagi, janji tinggal janji.

Departemen Sosial belum melakukan langkah apa pun seperti dijanjikan menterinya. “Dulu memang pernah dibentuk tim, tapi sekarang belum ada koordinasi,” kata Toto Utomo, Direktur Kepahlawanan Departemen Sosial. Toto menunjuk Departemen Pertahanan atau Markas Besar TNI yang berwenang mengurusi soal tersebut. Apa kata Mabes TNI?

“Saya belum bisa berkomentar, karena baru dengar,” kata Laksamana Muda Sunarto Sjoekronoputra kepada Tempo, pekan lalu.

Kompleks makam di Kampung Kalabakan Lama, Sabah, tampak cukup terawat, kecuali di beberapa gundukan tanah mirip kuburan. Konon itulah makam Rabeni, Subronto, dan beberapa anak buahnya. Tanpa nisan, tanpa nama.

Adalah sesepuh Tawao, Dato Mamun, yang mengidentifikasi makam itu kepada Tempo. “Saya tahu dari mandor hutan yang ada di sana,” ujar mantan warga negara Indonesia yang kini telah dinobatkan sebagai Sultan Bulungan di Kalimantan Timur itu.

Tentara Indonesia yang gugur di Sebatik lebih beruntung. Jenazahnya dibawa ke Tawao dan dikuburkan di pemakaman Melayu, Masjid Wilis. “Kuburnya ada nisan, tapi tanpa nama,” ujar Dato Mamun. Polisi setempat sempat memotret jenazah mereka sebelum dikubur, lalu didokumentasikan.

Maka, harapan untuk menginventarisasi dan memulangkan kerangka pahlawan Dwikora sungguh bergantung pada Malaysia. Sayang, pemerintah negeri jiran itu belum bersedia memberikan tanggapan. Sebabnya, “Kami baru dengar kabar ini,” kata Hamidah binti Azhari, juru bicara Kedutaan Malaysia di Jakarta.

Front Terpanjang

Medan perang itu berserak: di laut, di hutan, di sungai, membentang 2.000 kilometer dari Nunukan di Kalimantan Timur hingga Semenanjung Malaya.

Front Malaka

Medan tempur dengan jumlah korban terbanyak bagi Indonesia.  Kekuatan: 1 brigade (3.500 personel).Gugur: 78; 18 tidak jelas makamnya, 2 dimakamkan di Kalibata Hilang: 70 Ditawan: 217; ditahan di Johor Bahru

Labis dan Pontian, Gugur: 6 PGT Ditawan: 123 PGT Makam: 6 PGT

Kuala Kelang, Ditawan: 19 AD Kota Tinggi Gugur: 25 Pelopor Ditawan: 55 Pelopor Makam: 25 Pelopor

Johor Bahru, Gugur: 27 PGT Makam: 27 PGT

Singapura, Gugur: 20 KKO Ditawan: 19 KKO, 1 Pasukan Katak

Penjara Johor Bahru, Kota Johor Kamp tawanan utama Pasukan Indonesia yang ditawan di Kinabalu dan Tawao diterbangkan ke penjara ini.

Front Kalimantan Timur

Pertempuran paling sengit di front Kalimantan terjadi pada 28 Juni 1965, ketika Korps Komando (KKO) Angkatan Laut memasuki perbatasan Malaysia dari timur Pulau Sebatik. Kekuatan: 3.500 tentara (1 brigade) , Gugur: 15; 11 tak diketahui makamnya Hilang: 6; di laut dan hutan Ditawan: 14; di kamp tahanan Tawao dan Ketayan

Brigade Barat, Panjang front: 1.000 km ,Kekuatan: 5.000 tentara (5 batalion: Inggris 1, Gurkha 3, Malaysia 1), 25 helikopter

Brigade Tengah, Panjang front: 500 km , Kekuatan: 2 batalion Gurkha, 12 helikopter

Brigade Timur, Panjang front: 130 km, Kekuatan: 1 batalion infanteri, pasukan komando, Angkatan Laut Persemakmuran

Nunukan, Ditawan: 7

Kalabakan, Gugur: 1 ,Ditawan: 5 Makam: 1

Pulau Sebatik, Gugur: 3 Makam: 2

Tawao, Ditawan: 2 Makam: 1

Penjara Intelijen Tawao Penjara Ketayan Jezelton, Kinabalu

Operasi Pendaratan Di Pontian, Johor Baru dalam Kampanye Dwikora

1 Des

DWIKORA; Operasi Pendaratan di Pontian, Johor Baru

KKO

Operasi ini sebenarnya disebut Ops A, yaitu operasi intelijen yang lebih menekankan hasil pada efek politis daripada efek militer. Misi yang diemban pasukan ini adalah untuk mendampingi gerilyawan local dalam operasi militer, memberi pelatihan pada kader kader setempat yang dapt dikumpulkan di daerah sasaran, dan setelah dianggap cukup mereka akan kembali ke pangkalan.

Dari keterangan seorang anggota MArinir yang kembali pada tahun 1967, Serma Z. Yacobus, yang dalam operasi tersebut masih berpangkat kopral, di dapat keterangan sebagai berikut :

Tim 3 dari Kompi Brahma II menggunakan kapal patroli cepat, milik Bea Cukai. Tim operasi terdiri dari 21 anggota. Rombongan dibawa menuju suatu tempat diperbatasan pada tanggal 17 Agustus 1964 sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Pelayaran memakan waktu sekitar 4 jam. Setelah mendapat perintah dari masing masing komandan tim dan juga menerima perlengkapan tambahan, sekita pukul 01.30 tengah malam rombongan menerima briefing dari komandan basis II, dilanjutkan dengan embarkasi ke dalam 2 perahu motor yang telah dipersiapkan. Sembilan orang sukarelawan lokal dari Malaysia juga ikut dalam tim dan akan bertindak sebagai penunjuk jalan. Dengan demikian jumlah tim menjadi 30 orang.

Dengan menggunakan formasi berbanjar, berangkatlah kedua perahu tersebut menuju sasaran. Salah satu mengalami kerusakan mesin dan akhirnya kedua tim pun menjadi satu menuju sasaran. Sekitar pukul 06.30 kedua tim sampai ke daerah sasaran tanpa diketahui oleh musuh. Ternyata daerah pendaratan merupakan daerah rawa rawa yang berlumpur. Kedua tim memutuskan untuk bertahan di situ yang jaraknya sekitar 50 meter dari pantai pendaratan. Namun rencana penyusupan ini dikhawatirkan sudah diketahui oleh musuh, sehingga mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan gerakan dahulu dan tetap berlindung di semak semak sambil menunggu hari menjadi gelap. ( Ulasan Spahpanzer : Gw pernah baca artikel di internet entah di mana gw lupa, ternyata memang banyak operasi penyusupan rahasia ke wilayah Malaysia yang sengaja dibocorkan oleh oknum oknum di dalam TNI sendiri ke pihak lawan, menurut artikel tersebut ).

Pukul 19.00 tim baru dapat meninggalkan tempat persembunyian dan mencoba menyusuri medan berawa tersebut dengan susah payah dan pukul 03.00 pagi mereka beristirahat. Demi keamanan, kedua tim berpisah. Tim I dipimpin serda Mursid sebagai komandan tim, dan tim 2 dipimpin Serda A. Siagian. Rupanya kedudukan infiltran sudah diketahui pasukan keamanan setempat, kerana setelah 3 jam pasukan berada di situ, kedudukan mereka sudah dikepung musuh. Diperkirakan kekuatan musuh satu peleton ( 30 – 40 orang ).

Musuh melakukan tembakan pancingan untuk mengetahui posisi pas pasukan, disusul dengan ledakan granat tangan. Maka pertempuran pun tak dapat dihindarkan lagi. Kemampuan bertempur musuh ternyata masih di bawah kemampuan pasukan Marinir. Beberapa orang musuh tertembak mati. Di pihak tim gugur satu orang penunjuk jalan. Merasa tidak dapat mengimbangin Marinir pertempuran tersebut, makan pihak musuh mendatangkan bantuan 2 helikopter dan satu pesawat. Namun sebelum bantuan tersebut tiba, pasukan Marinir telah bergerak meninggalkan lokasi kontak senjata dan mencari tempat yang lebih aman untuk bertahan dalam raa rawa tersebut.

Musuh pun kemudian menggunakan anjing penjejak untuk melacak kedudukan tim Marinir. Pada tanggal 19 Agustus 1964, komandan tim memerintahkan 2 penunjuk jalan asal Malaysia untuk melakukan pengintaian dan mencari informasi dengan menyamar berpakaian seperti penduduk biasa. Namun hingga senja, keduanya belum juga kembali. Untuk mengatasi keragu raguan, komandan tim memutuskan untuk tidak menunggu mereka lebih lama lagi. Pasukan segera bergerak meninggalkan lokasi. Senjata dan perlengkapan keduanya disembunyikan di dalam lumpur untuk menghilangkan jejak.

Dalam perjalanan, tiba tiba tim mendapat serangan mendadak dari musuh. Dengan semangat Marinir “Pantang mundur, mati sudah ukur” tim melawan musuh dengan gigih. Beberapa musuh terluka. Hal itu didasarkan pada keterangan penduduk setempat yang sepat ditemui tim setelah selesainya pertempuran. Dipihak Marinir, satu orang penunjuk jalan asal Malaysia gugur.

Malam itu tim terpaksa beristirahat lagi sambil berlindung selama satu hari dan selanjutnya kembali bergerak, namun mereka tidak dapat menuju sasaran yang direncanakan karena sudah diketahui oleh musuh. Hal ini diketahui dari adanya bunyi rentetan tembakan. Rupanya telah terjadi kontak senjata antara tim yang dipimpin Serda Mursid dengan pihak musuh. Tugas tim kedua adalah mengadakan pencegatan, namun karena tim tidak dibekali dengan alat komunikasi, maka tugas ini pun gagal.

Satu jam kemudian pertempuran pun reda. Tim Marinir memutuskan untuk bersembunyi di rawa tak jauh dari perkampungan penduduk. Setelah 1 jam beristiharat, gerakan diteruskan menuju kampung dan sampi di sebuah rumah dan menemui penghuninya yang mengaku bernama Hasan. Hasan ini mengaku keturunan Indonesia asal Jawa.

Di rumah tersebut tim mendapat pelayanan yang cukup baik, sehingga terjadilah percakapan yang kurang hati hati dari tim yang menyangkut penugasan tim. Tanpa rasa curiga, Hasan pun menyatakan bersedia bekerja sama dengan tim Marinir. Bahkan Hasan pun sudah menunjuk tempat perlindungan yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya, sekitar 1 km dari perkampungan.

Pada tanggal 30 Agustus tengah hari, datanglah Hasan membawa seorang laki laki yang diakuinya sebagai pamannya ke tempat persembunyian tim, untuk menyampaikan informasi. Kemudian ia menyarankan agar tim berpindah lagi ke gubuk lain sejauh 500 meter dari persembunyian pertama. Karena sudah terlanjur percaya pada si Hasan, tim pun segera bergerak ke lokasi yang ditunjukkan.

Namun apa yang terjadi ?
Sekitar setengah jam kemudian, tim mendapat serangan mendadak sehingga tim kehilangan 2 anggota yaitu Prajurit Satu Kahar dan seorang guide asal Malaysia. Kopral Yacobus terkena tembakan di siku kanan, hngga senjatanya lepas. Prajurit Satu Siahuri terluka parah, sedangkan Kopral Priyono berhasil menyelamatkan diri ke sungai. Di tengah tengah situasi terjebak tembakan gencar tersebut, musuh berteriak “ Surender !!! Surender !!!” Teriakan ini diulangi lebih keras “Kalau mau hidup, Surender cepat !!!”
Anggota tim yang pingsan dan banyak mengeluarkan darah ini tertangkap musuh. Selanjutnya mereka dirawat seperlunya oleh musuh dan diserahkan ke Balai Polis setempat.

Ternyata si Hasan ini adalah pengkhianat. Pura pura mau menolong ternyata ada udang di balik batu. Ia mengharapkan hadiah dari aparat keamanan setempat, apalagi jika dapat menangkap pasukan Marinir Indonesia. Siagian sendiri akhirnya tertawan, sedangkan 3 anggota tim lainnya berhasil kembali ke pangkalan di Indonesia dengan selamat.

Regu satu yang dipimpin Serda Mursid akhirnya sampai di Gunung Pulai. Namun karena lokasi sasaran sudah diketahui musuh sebagai daerah tujuan tim, pasukan Marinir dikepung oleh musuh yang jauh lebih kuat. Terjadilah pertempuran sengit hingga akhirnya pasukan Serda Mursid kehabisan peluru. Mereka tetap gigih melawan hingga akhirnya 3 orang anggota pun gugur, termasuk Serda Mursid sendiri. Sisa anggota regu tertawan musuh.

Maka berakhirlah kisah heroik operasi pendaratan di Pontian, Johor Baru, Malaysia.

Nama nama anggota Marinir yang gugur di Pontian :
1. Prajurit Satu Kahar ( IPAM )
2. Sersan Mayor Satu Mursid ( IPAM )
3. Sersan Satu Ponadi ( IPAM )
4. Sersan Satu Mohamadong ( Pasinko )
5. Sersan Dua Yacob ( IPAM )
6. Sersan Dua Tohir ( Batalyon 3 )
7. Kopral Syahbuddin ( Pasinko )
8. Kopral Dulmanan ( IPAM )

DWIKORA ; Kisah Kompi X di Rimba Siglayan Kal-tim

1 Des

Kisah Kompi X di Rimba Siglayan Kal-tim

Tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa Tuhan mentakdirkan anggota Kompi X yang berasal dari Lembaga Pendidikan Marinir di Surabaya suatu saat harus memperingati hari kemerdekaan di tengah hutan Kalimantan. Tetapi itulah kehidupan manusia, ada “kekuatan” yang menentukan jalan hidup masing-masing umatnya.
Kami para pelatih dan pembantu pelatih yang biasanya memperingati hari besar di tengah kota Surabaya atau di medan latihan tempur Purboyo di daerah Malang selatan, sekarang harus melaksanakan tugas operasi di hulu S.Siglayan Kalimantan Timur bagian utara dekat dengan wilayah Malaysia, Sabah sebagai seorang Komandan, saya merasakan situasi kegamangan dan kesedihan yang cukup menekan perasaan, karena dalam kondisi yang jauh dari kesatuan induk, berada di lokasi yang sangat terpencil dan terpisah dari kesatuan lainnya, harus mampu menegakkan disiplin dan sekaligus memelihara semangat tempur dalam kondisi yang serba terbatas, kalau tidak mau menyebut sebagai serba kekurangan. Di tempat ini kami sudah bertugas selama tiga bulan lebih, dan sebelumnya bertugas di pulau Nunukan sejak Desember 1965.Saya tahu kalau saat seperti ini khususnya menjelang 17 Agustus, anak buah tentu sedang membayangkan upacara besar ini di Jakarta atau Surabaya. Tetapi kesedihan ini tidak lama saya rasakan, karena kemudian Tuhan telah mengubah dan memberi petunjuk, agar saya tidak larut dalam kebimbangan. Kondisi seperti ini justru merupakan tantangan bagi seorang komandan, agar menjadi tegar dan bagaimana seharusnya dapat memanfaatkan situasi dan kondisi yang mencekam ini dapat diubah menjadi situasi yang menyenangkan. 

Dan yang lebih penting, adalah bagaimana mengembalikan semangat anak buah yang mulai melemah, karena jenuh dalam lingkungan hutan yang sepi, agar mereka dapat bergairah lagi menghadapi kenyataan hidup, timbul kembali semangatnya yang baru serta tetap tegar menghadapi kondisi saat itu. Saya mempunyai keyakinan bahwa Tuhan telah memberikan petunjuk yang cukup jelas, dengan menunjukkan cara-cara bagaimana membangun kembali semangat tempur anggota marinir sebagai pasukan yang memiliki motto “pantang mundur mati sudah ukur “

Situasi politik pada awal dan pertengahan tahun “60-an dipenuhi udara panas bagi bangsa dan pemerintah Indonesia, karena adanya gagasan pembentukan negara federasi baru, Malaysia, yang merupakan gabungan antara Malaya (Persekutuan Tanah Melayu) yang sudah merdeka sejak tahun 1957 dengan Serawak, Brunei dan Sabah (Kalimantan Utara jajahan Inggris) Pemerintah Indonesia merasakan adanya upaya sistematis untuk mengepung NKRI di sebelah utara, sedangkan dari sebelah selatan sudah dijepit oleh Australia dan Selandia Baru.

Bangsa lndonesia merasakan adanya gerakan yang diprakarsai oleh Nekolim (Neokolonialis), yang akan merugikan Indonesia sebagai negara yang menganut politik bebas dan aktif dalam politik luar negerinya. Bersama Filipina, Indonesia pada saat itu menentang berdirinya negara baru Malaysia. Filipina mempunyai klaim terhadap Sabah. karena menurut data yang dimilik pemerintah Filipina, Sabah pada masa lalu adalah wilayah kerajaan Sulu, yang sekarang merupakan wilayah Filipina.

Itulah mengapa kemudian timbul konfrontasi antara Indonesia disatu pihak, menghadapi Malaya, Inggris yang dibantu Australia dan Selandia Baru dipihak lain.
Dalam rangka itulah telah dikirim masing-masing dua Brigade Pendarat Marinir ke perbatasan Indonesia. Satu Brigade di P.Batam (Kepulauan Riau) dan satu Brigade di P.Nunukan dan Sebatik (Kalimantan Timur)

Kiprah Kompi “X”
Makin mendekati hari kemerdekaan, saya pikir harus berbuat sesuatu yakni dengan mencoba menggunakan momen ini untuk menggelorakan semangat anggota yang sudah mulai lelah. Setelah tiga bulan di hutan, yakni bulan Mei, Juni dan Juli 1965 semangat anggota kompi X makin menurun. Maklum, tinggal dalam hutan yang sunyi dan benar-benar terisolasi baik dari kesatuan induk (Batalyon dan Brigade) maupun terpisah dengan penduduk setempat, memang terasa seperti memanggul beban yang sangat sangat berat terutama dari segi mental.

Coba anda rasakan setiap hari hanya memandang pohon-pohon yang tingginya lebih 30 meter, semak yang sama, bahkan sinar matahari yang tidak sepenuhnya mampu menembus rimbunnya dedaunan hutan, menciptakan kesunyian, ketersendirian dan juga kelengangan yang setiap hari makin memuncak. Udara selalu lembab. Tidak ada aroma lain kecuali bau daun kering dan daun busuk apalagi pada malam hari, hanya dapat mendengar suara beruang yang sedang berkelahi, suara monyet dan suara kepakan sayap kelelawar besar, yang melintas diatas pepohonan, makin menekan mental masing-masing prajurit.

Dipihak lain kami tahu lawan gabungan pasukan Inggris-Malaysia hanya dua bulan mampu bertahan di hutan seperti ini dan setiap dua bulan sudah diganti dengan pasukan baru. Dari segi pengiriman logistik mereka lebih teratur pula pengirimannya. Kami sering melihat pengiriman logistik untuk pasukan Inggris di wilayah Sabah dilakukan melalui udara dengan menggunakan parasut yang dijatuhkan ke tengah hutan di tempat mereka bertugas. Kami, boro-boro dikirim, tetapi dibebankan pada kompi, yang setiap bulan sekali harus mengambil sendiri ke Nunukan menggunakan perahu bermesin tempel 40 PK. Karena itu, setiap bulan, secara bergilir, ada anggota yang mendapat giliran ‘’cuti” ke Nunukan, sambil belanja kebutuhan sehari-hari dengan uang lauk-pauk yang sangat terbatas Bagi yang mendapat giliran belanja ke Nunukan, rasanya seperti mendapat kesempatan melihat dunia luar karena dapat bertemu dengan orang lain termasuk penduduk.

Karena itu, untuk mengurangi beban mental para anggota kompi X, mereka selama di pedalaman ini berusaha menghibur diri dengan cara masing-masing antara lain memanjangkan rambutnya. Setelah rambut panjang ada yang berinisiatif untuk mengikat rambutnya dengan pita seperti layaknya gaya rambut ekor kuda bagi remaja dan gadis-gadis di Surabaya.

Berbicara sehari-haripun harus pelan dan nyaris berbisik. Karena di tengah hutan begini sangat dilarang berbicara dengan suara keras, kami menjadi terbiasa berbicara dengan berbisik-bisik. Hiburan tidak ada sama sekali. Radio tidak ada. Lain dengan kompi Brahma, kompi sukarelawan gabungan marinir dan sipil lokal, setiap peleton Sukwan, mereka mendapat radio Philips transistor. Karena itu saya sering menumpang dengar berita melalui radio mereka. Sayang sekali untuk mendengar siaran RRI sangat sulit. Yang paling mudah adalah mendengarkan radio Malaysia. Tentu saja. isi beritanya sangat berlawanan. Berita konfrontasi, tentu menjelek-jelekkan aktivitas pasukan kita. Demikian pula berita nasionalnya tentu membuat telinga kita bisa menjadi merah karena isinya mesti menjelek-jelekkan pemerintah RI.

Yang lucu, siaran radio masing-masing pemerintah dalam akhir pidato atau peryataan resmi pemerintah, selau diakhiri dengan menyatakan:“ Tuhan beserta kita” Komentar para anggota yang mendengarkan:“ Kasihan, Tuhan bisa bingung kalau begini, habis masing-masing negara mau memonopoli Tuhan. Terserah. Mau membela Indonesia atau Malaysia”, karena setiap pemerintah, baik Indonesia maupun Malaysia ingin agar Tuhan hanya membela negaranya.

Sampai bulan Agustus, musim hujan masih terus berlangsung hampir tiap malam turun hujan. Kadang-kadang hujan turun sangat lebat yang disertai angin kencang. Kalau cuaca sudah begini, kami makin ngeri karena biasanya kalau sudah ada angin begini banyak pohon tumbang akibat tanah yang menjadi lembek, atau dahan yang patah, jatuh kebumi. Suaranya sampai terdengar dari kejauhan.

Rasanya makin NGLANGUT, karena tidak ada yang dapat membantu kalau terjadi apa-apa. Inilah risikonya terpisah dari induk pasukan Bila sudah begini yang dapat dilakukan hanya berdoa. Tetapi dengan kekuatan doa kami, Tuhan rupanya masih menaruh belas kasihan pada kompi X. Selama enam bulan, mulai Mei sampai Oktober 1965 di tengah hutan dan terpisah dari masyarakat manusia tidak ada satupun pohon maupun dahan yang jatuh di barak kami.

Bagi saya selaku pimpinan. maupun anggota pada umumnya. hiburan satu-satunya yang paling diharapkan adalah kedatangan surat dari keluarga atau kawan-kawan dari Surabaya. Bagi saya yang mempunyai kebiasaan membaca terutama sebelun tidur, sangat memerlukan bacaan dan bacaan yang saya dapat, baik kiriman dari Surabaya maupun yang saya peroleh dari markas batalyon, sangatlah mengembirakan. Majalah apapun, bagi saya merupakan hiburan yang sangat berarti, termasuk majalah “Mangle” terbitan Bandung yang berbahasa Sunda.

Walaupun saya tidak begitu paham bahasa ini, namun masih dapat mengerti isinya secara umum, terutama karena jasa baik seorang anggota, ditolong oleh salah seorang caraka, prajurit marinir Suhanda yang berasal dari Purwakarta.Jadi kalau ada kata-kata yang saya tidak mengerti, saya panggil Suhanda untuk menerjemahkan kalimat tertentu. Kadang-kadang kalau lagi mujur, saya dapat memperoleh majalah bulanan “Intisari” dari markas batalyon kalau kebetulan ada tamu yang datang dari Jakarta atau Surabaya. Pada waktu malam, karena hutan yang gelap namun saya masih berusaha membaca walaupun hanya dari sinar temaram, dengan penerangan sebatang lilin.

Seminggu menjelang tanggal 17 Agustus tahun 1965 saya minta para perwira dan bintara yang ada untuk mengadakan pertemuan, dengan fokus pembicaraan bagaimana caranya agar anggota kompi X dapat merayakan hari nasional ini walaupun sedang berada di tengah hutan. Saya jelaskan tujuan pertemuan dan tujuan perayaan, yakni pertama, memperingati hari kemerdekaan sekaligus mengembalikan semangat perjuangan membela negara dan bangsa. Akhirnya diputuskan untuk melaksanakan kegiatan sebagai berikut: Pada tanggal 17 Agustus kompi harus mengadakan perayaan, tetapi tetap harus waspada terhadap kemungkinan serangan mendadak lawan. Pada hari itu, semua anggota harus berseragam lengkap sebagaimana seragam tempur marinir termasuk menggunakan helm, yang selama pasukan di tengah hutan tidak pernah lagi dikenakan.

Dua pertiga pasukan melakukan upacara penaikan bendera, sedangkan sepertiga tetap siap tempur menjaga lingkungan upacara. dan pos jaga masing-masing seperti yang sudah ditentukan sebelumnya, mereka bertanggungjawab bila ada pendadakan. Sebagai “lapangan upacara” dicari tempat yang lapang dan rata, yakni dibawah sebatang pohon besar yang rindang Semak belukar dibawah pohon dibersihkan dan daun-daun kering di bawah pohon disapu bersih.

Di tengah lapangan upacara didirikan sebatang kayu untuk pengibaran bendera sang merah putih dengan tali batang rotan yang kecil tetapi cukup kuat. Sekarang untuk pestanya, selelah upacara selesai, harus ada suasana baru. Diputuskan, hari istimewa itu seluruh anggota akan makan ketupat. Bahannya pembungkusnya (sarang ketupat) gampang ambil saja daun nipah yang masih muda dianyam menjadi sarang ketupat. Sekarang, apa yang pantas menjadi lauknya. Kami putuskan untuk mendapatkan daging, segar. Caranya, kami bentuk empat tim pemburu untuk mencari babi hutan. Kebetulan pada bulan Juli – Agustus sedang musim buah terutama cempedak hutan. Babi biasanya mudah ditemui pada musim buah ini.

Dua hari menjelang tanggal 17, empat tim yang sudah ditunjuk berangkat keempat penjuru untuk mencari dan menembak babi. Untuk sementara larangan menembak dicabut. Dalam keadaan “normal” letusan senjata berarti kontak dengan musuh, dan demi kerahasiaan, dilarang menembak tanpa tujuan yang jelas.
Nasib untung masih berfihak pada kami, pada sore hari ketika tim pemburu ini kembali, mereka datang sambil memikul empat ekor babi hutan.

Sementara itu pada tanggal 16 Agustus, untuk membuat musuh panik, saya perintahkan seksi mortir 81 dikawal satu regu untuk menyerang pos musuh dengan menggunakan mortir 81. Tentu sangat sulit untuk menembakkan mortir di tengah hutan yang tertutup semacam hutan Siglayan ini. Harus dapat menemukan lubang agar dapat menembak. Tetapi mereka tidak kurang akal. Pada suatu medan yang agak terbuka, mereka berhasil menembakan enam peluru mortir 81 dengan jarak sejauh mungkin, sekitar tiga setengah kilometer. Setelah berhasil menernbakkan enam butir peluru secara beruntun, pasukan kembali secepat mungkin agar tidak dapat dibaring dan dibalas oleh musuh.

Menurut data intel yang kemudian kami peroleh dari penduduk sipil yang berhasil masuk ke Tawao, serangan ini berhasil mengenai sasaran dan menewaskan satu orang. Rupanya, lawan juga sudah mengantisipasi kemungkinan kami menyerang pada sekitar tanggal 17 Agustus ini. Tetapi karena kami menyerang sehari sebelumnya, mereka panik, dan mengira kami akan menyerang secara besar-besaran. Buktinya, tepat pada tanggal 17 musuh menembaki seluruh hutan itu dengan mortir selama satu hari penuh. Kami hanya menyambut dengan santai. Tidak perlu dibalas, karena tembakan mereka sangat tidak terarah. Maklum tembakan orang lagi panik. Tanggal 17 Agustus pagi kami siap mengadakan upacara penaikan bendera. Jam delapan, pasukan pengaman sudah menempati pos masing-masing. Seluruh anggota berpakaian tempur lengkap.

Jam sembilan kurang seperempat, pasukan upacara sudah siap di lapangan upacara. Jam sembilan kurang lima menit saya selaku pemimpin upacara memasuki lapangan upacara. Sersan Mayor Zaini, bintara peleton satu, menjadi komandan upacaranya. Penaikan bendera dimulai dilakukan oleh Kopral Adam dan seorang prajurit, diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh peserta upacara. Tiba-tiba menjelang bendera sampai kepuncak tiang, rotan tali bendera putus. Lagu kebangsaan berjalan terus. Terpaksa tiang dicabut, bendera diikatkan di puncak tiang, tancapkan lagi ditempat semula, Namun upacara tidak terganggu oleh insiden ini, tetap khidmat Semua anggota merasakan suasana anggunnya upacara memperingati hari kemerdekaan ini walaupun ada sedikit gangguan putusnya tali bendera.(kepercayaan yang berkembang, bila tali bendera putus pada waktu upacara, biasanya akan ada peristiwa yang gawat, mendebarkan)

Dalam pidato sebagai amanat inspektur upacara, saya mencoba memberikan semangat dengan menjelaskan mengenai tugas kompi X maupun anggota Kompi Brahma (satu peleton) sebagai prajurit yang sedang melaksanakan tugas suci karena mengemban tugas negara walaupun sekarang sedang berada di tengah hutan di perbatasan Kalimantan Utara, jauh dari Surabaya sebagai “homebase” kompi X maupun pasukan induk, yang ada di Pulau Nunukan, tetapi pasukan harus tetap tabah menghadapi situasi dan kondisi saat ini. Jangan berfikir yang tidak-tidak seperti merasa dibuang dan seterusnya. Kita adalah ksatria yang pantang menyerah.

Saya perhatikan reaksi para prajurit, mereka rupanya mendengarkan apa yang saya sampaikan dengan serius. Saya merasa puas. Selesai upacara diadakan perlombaan lari karung jarak duapuluh meter, diteruskan lempar gelang rotan. Hadiahnya korned dan abon. Suasana cukup meriah. Setidaknya sejenak melupakan situasi tegang selama ini. Selesai perlombaan, semua menikmati makan ketupat dengan lauk daging babi bagi yang mau, sementara yang tidak mau makan dengan lauk sarden dan “corned beef” kalengan. Semua masakan sudah dimasak semalam jadi sekarang sudah dingin. Karena selama barada ditengah hutan, dilarang keras masak pada siang hari. Namun demikian, suasananya sungguh berbeda. Ada kegembiraan yang dalam beberapa hari sebelumnya sudah sirna.

Menjelang tanggal 31 Agustus 1965, datang peringatan dari batalyon melalui radio GRC-9, mengingatkan hari kemerdekaan Malaysia yang akan jatuh pada tanggal 31Agustus 1965, supaya kompi yang ada di Siglayan waspada. Sebenarnya peringatan itu tidak begitu perlu. Kami sudah siap menghadapi mereka kalau memang berani datang menyerang. Pedoman Marinir “pantang mundur”, terus bergema dibenak masing-masing anggota. Pertempuran di dalam hutan berarti pertempuran jarak sangat dekat. Ternyata tanggal 30 dan tanggal 31 Agustus tidak ada kegiatan lawan. Kami agak mengendorkan kesiagaan.

Tanggal 1 September 1965 sekitar jam sembilan pagi secara tak terduga kami diserang dengan rentetan tembakan senjata ringan secara serentak. Dari arah depan kiri. Karena terkejut, ada anggota di lapis depan yang langsung panik dan saya mendengar ada yang mengatakan :“mundur…”. Saya segera maju, kupertahanan peleton dua untuk mencari sumber tembakan. Beberapa anggota sudah ada yang bergerak mundur saya segera bertindak. Sambil membentak ‘tetap ditempat” diiringi suara kepala regu satu pleton satu, Sersan Suprapto dibelakang saya “ dengarkan suara tembakan, dari mana arahnya”. Teriakan ini membuat pasukan menjadi tenang kembali. Semua siap menghadapi kemungkinan serangan lanjutan.

Semua segera tiarap dengan memegang senjata masing-masing. Dalam situasi menunggu, saya perin-tahkan mencari awak mortir 81 untuk segera masuk seteling. Ternyata me-reka tidak ditempat. Kemarin, me-mang ada pergantian awak mortir Karena itu, mereka empat orang dipimpin seorang kopral sedang mencari kayu untuk mendirikan baraknya. Tidak lama kemudian mereka muncul sambil terengah-engah “Siapkan mortir siap menembak” Saya perintahkan segera. Karena mereka hanya ada empat orang dan harus melayani dua pucuk mortir, mereka gugup dan kewalahan. Saya perintahkan anggota yang berdekatan, kopral Adri Waroka dan prajurit lainnya untuk membantu menyiapkan peluru mortir.

Tidak lama kemudian terdengar bunyi peluru meriam mendekat. Ses-ses-ses……….Dan disusul bunyi ledakan di sebelah kiri petak pertahanan. Untung peluru pertama musuh jatuh sekitar 500 meter disamping kami, tidak mengenai seorangpun. Bau mesiu makin merangsang semangat tempur kami. Kini kami benar-benar sudah siap untuk bertempur. Segera terjadilah saling tembak yang kurang seimbang. Musuh menggunakan artileri, jarak tembaknya bisa lebih jauh dan tembakan mortir karena kami hanya menggunakan dua pucuk mortir.

Saya minta satu pucuk menembak dengan jarak maksimal dengan isian penuh, satu pucuk melindungi pasukan kawan di seberang sungai, disana ada dua regu yang menembaki pos di seberang sungai, setiap regu terpisah satu di sebelah kiri depan kompi, satu lagi regu yang menjaga “Pos Tanah Merah’’. Pos inilah yang mendapat serangan pertama. Rupanya musuh masih mempunyai data awal, yaitu terbukti hanya menembaki barak yang pertama dibuat yang lokasinya lebih ke hulu sungai, persis di belokan Siglayan, tempat para gerilyawan memasuki Sabah pada tahun 1963. Sedang kedudukan kami sekarang sudah mundur lebih 500 meter lebih ke belakang.

Pos pertama ini sudah beberapa kali mendapat kiriman peluru meriam musuh. Karena itu, tembakan musuh jatuh di samping kiri depan kedudukan kami atau jatuh di depan kami di rawa-rawa, jadilah hari itu tembak menembak sampai berhenti total jam empat sore. Hanya menjelang peluru meriam akan jatuh ke tanah, kecepatan peluru sudah lemah dan mengeluarkan bunyi ses… ses… ses, kami harus waspada. Itu artinya peluru sudah hampir tiba. Semoga tidak jatuh di daerah posisi sekarang.

Menghadapi ulah peluru demikian, hati menjadi ciut, karena tidak tahu dimana peluru itu akan kehabisan tenaganya. Dan kami hanya bisa berdoa Tuhan, lindungi kami. Yang jelas, bagi pasukan yang pernah mendapat serangan meriam seperti ini, kalau dia selamat, akan menjadi kenang-kenangan yang indah dalam hidupnya Sementara itu, musuh mengirimkan pelurunya secara terus-menerus dan lebih cepat. Mungkin mereka menembak dengan enam pucuk meriam sedang kami hanya memiliki dua pucuk mortir 81. Itupun masih kami anggap untung, karena sebelumnya kami hanya memiliki AK dan RPD saja.

Dengan adanya tembakan balasan dari kami, musuh akhirnya lari terbirit-birit, tidak jadi mengadakan serangan jarak dekat. Ketika besok paginya saya mengadakan patroli pengejaran mulai di sekitar pos Tanah Merah, sesuai jejak yang kami temukan, ternyata pada kemarin malamnya, musuh bermalam tidak jauh dari pos Tanah Merah, sekitar 500 meter, di seberang lembah. Rupanya musuh tidak tahu, ada satu regu menduduki medan di depan mereka.

Setelah pertempuran selesai, saya cek jumlah anggota, ada dua anggota hilang. Saya bersama yang lain terus mencari mungkin mereka terluka atau gugur. Untung sebelum gelap, dua prajurit ini muncul dan segera memeluk saya. Karena girangnya rupanya begitu musuh membrondong mereka, mereka sempat loncat ke tebing di atas sungai Siglayan dan kebetulan di sana ada sebuah lubang mirip gua, sehingga kedua prajurit ini dapat bersembunyi dengan aman dan mereka tak dapat diketemukan musuh yang berada di atasnya. Melihat bekas tembakan serentak musuh, lokasi di mana terjadi tembak-menembak, semak belukarnya sudah rata seperti dibabat dengan parang.

Karena itu saya menduga, dua orang ini sudah gugur atau tertangkap musuh. Ternyata keduanya selamat, tak ada sehelai bulunya yang tanggal. Dasar nyawanya masih betah tinggal di tubuhnya, dan rupanya belum mau pindah ke akhirat. Dari penelitian selanjutnya, ternyata masih ada satu orang lagi yang hilang, yakni prajurit dua marinir Panut, caraka komandan peleton dua. Empat hari kemudian, jenasahnya diketemukan mengambang di sungai. Malam itu saya menemani regu yang mendapat serangan musuh pada siang harinya, untuk mendorong semangat tempur regu itu. Selamat jalan Panut. Apakah ini arti tali bendera putus waktu penaikan bendera? Jenasah Prajurit marinir Panut dimakamkan juga di TMP Jayasakti Nunukan

[Subhallah...!!!] INILAH Manusia Tertua Di Indonesia

1 Des

Namanya Raden Lili Soeratno atau bernama lain Mr. Pringgodigdo atau biasa dipanggil Mbah. Ia mengaku berumur 155 tahun, berbeda jauh dengan yang tertera di KTP-nya yang tertulis ia lahir di Nganjuk pada 1919.

“Tubuh saya gatal-gatal sejak saya perang di Hanoi dulu,” tutur Pringgodigdo sembari tertawa kepada sejumlah dokter yang memeriksanya di ruang perawatannya di RSCM, Jakarta. Sejumlah bekas ruam karena gatal terlihat di kulit keriputnya.
Ia ditemukan oleh seorang dokter asal Papua yang bernama John Manangsang. Saat itu seseorang meminta berkonsultasi kepada John mengenai seorang kakek di rumahnya yang menderita gatal dan mengalami buta karena katarak dan tuli karena faktor usia.

Sudah dua minggu ia dirawat di RSCM. Selama itu pula Pringgodigdo menceritakan pengalaman hidupnya kepada John. Kepada Media Indonesia, John pun menuturkan cerita itu. John bercerita, baru satu malam ia berada di Bekasi. Sebelum tiba di Bekasi, Pringgodigdo tinggal di Jonggol.

Menurut Pringgodigdo, ia sudah berumur 155 tahun. Perjalanan hidupnya panjang. Ia pernah menjadi anggota tentara Volkenbond (Lembaga Bangsa-Bangsa/LBB). Dengan Volkenbond itu, ia menjadi salah satu pejuang sekutu di Perang Dunia I.

Menurut John, Pringgodigdo kerap kali bercerita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar sejak kerajaan Majapahit berdiri. Karena kerajaan itu jugalah, menurutnya bangsa-bangsa di dunia dahulu menghormati Indonesia.

Namun keberadaan Pringgodigdo saat ini tidaklah aman jika diketahui publik. John memaparkan, Pringgodigdo kerap bercerita ia membawa aset peninggalan Kerajaan Majapahit dan Mataram. Karena itulah sepanjang perjalanan hidupnya Pringgodigdo mengaku banyak diburu orang yang berburu aset kerajaan kuno yang tentu sangat bernilai tinggi itu.

Bahkan Pringgodigdo mengatakan aset tersebut kini tersimpan pada level Bank Dunia dan turut berperan menstabilkan ekonomi dunia. Aset tersebut tentu saja tidak dapat diambil oleh orang lain selain Pringgodigdo.

Menurut pengakuannya, sudah delapan kali ada pihak-pihak yang mencoba memalsukan identitas Pringgodigdo, baik dari sidik jari hingga tanda tangannya untuk mengambil aset kerajaan kuno itu. Namun selalu gagal. Yang terakhir kali, aksi pemalsuan itu terjadi di Malaysia beberapa tahun yang lalu.

Sejarah Pancasila, Orang Indonesia Mesti Baca !!!!!

1 Des

Sejarahnya tuh berawal dari kalahnya orang-orang jepang pada tahun 1944, nah karena terus-menerus terdesak pada tanggal 29 April 1945 jepang memberikan janji kemerdekaan buat negara kita tercinta ini..pada saat itu pula BPUPKI dibentuk…BPUPKI mengadakan sidang pertamanya pada tanggal 29 Mei 1945 – 1 Juni 1945… nah dalam sidang inilah dasar negara kita mulai dibicarakan 2 orang diantara para pembicaranya adalah M. Yamin dan Bung Karno yang masing-masing mengusulkan calon dasar negara untuk Indonesia merdeka.

Muhammad Yamin mengajukan usul mengenai dasar negara secara lisan yang terdiri atas lima hal, yaitu:

1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat

Selain itu Muhammad Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yang juga terdiri atas lima hal, yaitu:


1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Usulan ini diajukan pada tanggal 29 Mei 1945, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengajukan usul mengenai calon dasar negara yang terdiri atas lima hal, yaitu:


1. Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)
2. Internasionalisme (Perikemanusiaan)
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan yang Berkebudayaan

Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila. Lebih lanjut Bung Karno mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas menjadi Trisila, yaitu:


1. Sosio nasionalisme
2. Sosio demokrasi
3. Ketuhanan

Berikutnya tiga hal ini menurutnya juga dapat diperas menjadi Ekasila yaitu Gotong Royong.

Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para anggota BPUPKI sepakat untuk membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah menampung usul-usul yang masuk dan memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi kesempatan mengajukan usul secara tertulis paling lambat sampai dengan tanggal 20 Juni 1945. Adapun anggota panitia kecil ini terdiri atas delapan orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Ki Bagus Hadikusumo
3. K.H. Wachid Hasjim
4. Mr. Muh. Yamin
5. M. Sutardjo Kartohadikusumo
6. Mr. A.A. Maramis
7. R. Otto Iskandar Dinata
8. Drs. Muh. Hatta

Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara Panitia Kecil, dengan para anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta. Hasil yang dicapai antara lain disetujuinya dibentuknya sebuah Panitia Kecil Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara, yang terdiri atas sembilan orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Drs. Muh. Hatta
3. Mr. A.A. Maramis
4. K.H. Wachid Hasyim
5. Abdul Kahar Muzakkir
6. Abikusno Tjokrosujoso
7. H. Agus Salim
8. Mr. Ahmad Subardjo
9. Mr. Muh. Yamin

Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga melanjutkan sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Piagam Jakarta”.

Dalam sidang BPUPKI kedua, tanggal 10-16 juli 1945, hasil yang dicapai adalah merumuskan rancangan Hukum Dasar. Sejarah berjalan terus. Pada tanggal 9 Agustus dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia kosong dari kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pemimpin bangsa Indonesia, yaitu dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama (1) mengesahkan rancangan Hukum Dasar dengan preambulnya (Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum mengesahkan Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada utusan dari Indonesia bagian Timur yang menemuinya.

Intinya, rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di belakang kata “ketuhanan” yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia bagian Timur lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh. Hatta disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan. Muh. Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi persatuan dan kesatuan, mengingat Indonesia baru saja merdeka, akhirnya tokoh-tokoh Islam itu merelakan dicoretnya “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” di belakang kata Ketuhanan dan diganti dengan “Yang Maha Esa”. Adapun bunyi pembukaan UUD 1945 Seperti yang sudah kita ketahui waktu di sekolah dulu adalah sebagai berikut

UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
PEMBUKAAN
(Preambule)

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan de-ngan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidup-an bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadil-an sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Ke-rakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.